Kasus perceraian karena ekonomi di Indonesia cukup tinggi. Pengkhianatan ternyata bukan cuma soal perasaan, tapi juga tentang keuangan dalam rumah tangga!
Ekonomi menjadi salah satu penyebab perceraian. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kasus perceraian karena ekonomi di Indonesia pada 2024 tercatat mencapai 100.198 kasus.
Angka ini menjadikan faktor ekonomi sebagai penyebab perceraian tertinggi kedua di Indonesia. Jumlahnya sekitar 25,05% dari total jumlah perceraian pada 2024 yang sebanyak 399.921 kasus.
Sementara faktor terbanyak perceraian terjadi lantaran adanya perselisihan dan pertengkaran terus menerus yang tercatat 251.125 kasus atau sekitar 62,79%.
Menariknya, faktor ekonomi sebagai pemicu retaknya rumah tangga nggak cuma melanda masyarakat kelas bawah saja. Kalangan selebritis dan masyarakat kelas atas juga ada yang mengalami hal ini, salah satunya adalah Tasya Farasya.
Baca juga: Cara Mengelola Keuangan Rumah Tangga agar Stabil dan Bebas Stres
Fakta Pengkhianatan Keuangan Rumah Tangga
Pengkhianatan keuangan dalam rumah tangga itu ada banyak sekali contohnya. Berikut beberapa di antaranya!
1. Tidak Transparan soal Uang
Kurangnya transparansi soal uang adalah salah satu pemicu utama konflik finansial dalam rumah tangga. Ketika salah satu pasangan menyembunyikan pemasukan, tabungan, pinjaman, atau pengeluaran tertentu, hubungan langsung kehilangan pondasi kepercayaan.
Di awal mungkin terlihat seperti masalah kecil, tetapi lama-kelamaan efeknya meluas: anggaran tidak realistis, rencana keluarga jadi tidak jelas, dan keputusan finansial selalu pincang karena informasi tidak lengkap.
Ketika akhirnya ketahuan, persoalannya bukan lagi uangnya, tetapi rasa dikhianati. Inilah yang membuat ketidaktransparanan finansial bisa berkembang menjadi konflik besar.
2. Tidak Ada Uang Bulanan atau Nafkah
Tidak adanya uang bulanan atau nafkah untuk istri juga jadi pemicu ketegangan. Biasanya hal ini terjadi ketika suami dan istri sama-sama bekerja dan punya penghasilan, sehingga suami merasa nggak perlu memberi uang bulanan.
Padahal nafkah itu adalah kewajiban suami untuk memberikan pemenuhan kebutuhan hidup istri, baik materi dalam bentuk uang bulanan maupun non-materi. Nafkah tetap harus diberikan, sekalipun istri bekerja.
3. Tidak Ada Obrolan soal Uang di Awal Pernikahan
Banyak pasangan masuk ke pernikahan tanpa pernah benar-benar membicarakan uang: bagaimana cara mengelola pemasukan, siapa yang bayar apa, berapa target tabungan, bagaimana sikap terhadap utang, atau bagaimana kalau salah satu berhenti bekerja.
Ketika hal ini tidak dibahas sejak awal, perbedaan cara pandang dan kebiasaan finansial akan muncul di tengah jalan dan biasanya langsung memicu pertengkaran.
Obrolan soal uang memang sering dianggap tabu, tetapi justru dengan membicarakannya sejak awal pasangan bisa punya ekspektasi yang jelas, menghindari miskomunikasi, dan punya sistem keuangan yang disepakati bersama.
Baca juga: 5 Tips Pembagian Uang Suami Setelah Menikah, Begini Caranya!
Bagaimana Mencegah Pengkhianatan Finansial?
Pengkhianatan finansial tentu harus dicegah. Oleh karena itu, sangat penting bagi pasangan untuk menyamakan visi dan misi rumah tangga, termasuk membicarakan keuangan sebelum menikah.
Selain itu, ada beberapa cara mencegah pengkhianatan keuangan dalam rumah tangga sebagai berikut!
1. Transparan Keuangan Sejak Awal
Keterbukaan soal penghasilan, utang, dan aset pribadi menjadi fondasi utama hubungan keuangan yang sehat. Banyak hubungan retak bukan karena kurang uang, tapi karena salah satu pihak merasa tidak dilibatkan dalam urusan finansial.
Membuka informasi keuangan sejak awal membantu membangun kepercayaan dan memudahkan dalam membuat keputusan bersama, misalnya untuk pembelian aset besar atau investasi.
2. Pisahkan Rekening
Keuangan rumah tangga yang ideal adalah yang memiliki sistem pemisahan yang jelas antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan bersama. Rekening pribadi tetap diperlukan untuk kebebasan finansial masing-masing.
Sementara rekening bersama digunakan untuk menanggung kebutuhan rumah tangga seperti belanja bulanan, biaya pendidikan, dan cicilan rumah.
Sistem ini membuat pembagian tanggung jawab lebih jelas dan mencegah salah paham ketika salah satu pihak merasa menanggung beban lebih besar dari yang lain.
3. Catat dan Evaluasi Pengeluaran Secara Berkala
Pencatatan keuangan itu untuk mengukur efektivitas penggunaan uang dalam rumah tangga. Banyak pasangan yang tidak sadar pengeluarannya boros karena tidak pernah melakukan evaluasi bulanan.
Dengan mencatat arus kas, pasangan bisa menentukan pos mana yang perlu dikurangi dan mana yang masih wajar. Evaluasi ini juga bisa menjadi dasar untuk menentukan target keuangan baru.
4. Lindungi Aset dengan Dokumen Resmi dan Asuransi.
Setiap aset yang dimiliki bersama perlu didaftarkan dengan nama yang jelas agar tidak menjadi sumber konflik di kemudian hari. Dokumen seperti sertifikat tanah, BPKB, atau surat investasi harus disimpan rapi dan memiliki bukti hukum yang sah.
Selain itu, asuransi juga menjadi perlindungan penting, baik untuk jiwa, kesehatan, maupun aset. Perlindungan finansial ini memastikan kondisi ekonomi keluarga tetap stabil meski terjadi musibah yang tidak diinginkan.
5. Tetapkan Tujuan Keuangan Bersama
Setiap pasangan sebaiknya memiliki arah finansial yang sama agar langkah mereka selaras. Tujuan bersama ini bisa berupa rencana membeli rumah, menyiapkan dana pensiun, atau memulai investasi jangka panjang.
Adanya tujuan bersama membantu pasangan menahan diri dari pengeluaran impulsif dan membuat keduanya sama-sama berkomitmen dalam menabung. Visi keuangan yang jelas juga menjadi perekat yang membuat hubungan finansial lebih sehat dan terarah.
Itulah ulasan mengenai bagaimana pengkhianatan keuangan terjadi dalam hidup berumah tangga, serta bagaimana cara mencegah agar hal serupa tidak menimpa. Gimana apakah kamu sudah siap menikah?
Jika kamu berencana menikah, sebaiknya cek dulu seberapa sehat finansialmu. Karena kamu pasti nggak mau kan sampai terjadi pengkhianatan finansial dalam rumah tangga kamu?
Untuk cek kesehatan finansial, kamu bisa ikut Financial Fitness Check Up dari Ruang meNYALA. Layanan ini hanya butuh waktu 3 menit buat tahu sehat tidaknya keuanganmu.
Hasil FFCU bisa langsung kamu diskusikan dengan Nyala Trainer dalam layanan konsultasi 1 on 1. Melalui layanan ini, kamu akan mendapatkan strategi keuangan yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.
Banyak manfaatnya, kan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang guna mencapai #FunanciallyFit!
Baca juga: 10 Cara Mengatur Rencana Keuangan Keluarga, Ini Manfaatnya!