Logo Ruang Menyala
Bg Block
Kembali ke meNYALA resources

Berapa Persen Nafkah Istri dari Gaji Suami? Simak Faktanya!

Oleh: Ruang Menyala

Last updated: 30 Juli 2025 | 10K dilihat

Berapa Persen Nafkah Istri dari Gaji Suami? Simak Faktanya!

Setelah menikah, laki-laki sebagai suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya. Nafkah adalah kewajiban suami untuk memberikan pemenuhan kebutuhan hidup istri, baik materi maupun non-materi. 

Namun masih banyak yang beranggapan bahwa semua penghasilan suami adalah hak istri. Bahkan ada ungkapan “uang suami adalah uang istri, sementara uang istri adalah uang istri.”

Lalu berapa persen sih gaji suami yang menjadi hak istri dan harus diberikan sebagai nafkah? 

Baca juga: Tips Atur Pengeluaran Saat Liburan Agar Kantong Nggak Bolong

Berapa Persen Nafkah Istri dari Gaji Suami?

Sebenarnya tidak ada aturan pasti terkait berapa jumlah nafkah suami kepada istri. Aturan agama maupun budaya di masyarakat hanya menekankan kewajiban suami untuk memberi nafkah istri dan keluarganya. 

Meski begitu, suami dan istri harus tahu beberapa poin penting terkait nafkah sebagai berikut!

1. Kecukupan, Bukan Persentase

Nafkah untuk istri tidak diatur dengan persentase pasti dari gaji suami. Fokusnya adalah pada kecukupan hidup, bukan angka. Selama kebutuhan pokok seperti makan, tempat tinggal, dan kesehatan tercukupi, besarnya nafkah bisa berbeda-beda tergantung kondisi keuangan keluarga. 

Misalnya, suami dengan gaji Rp5 Juta dan suami dengan gaji Rp20 Juta tentu memberi nafkah dengan jumlah berbeda, tetapi prinsipnya sama: cukup untuk kebutuhan keluarga.

2. Jumlah Disepakati Suami-Istri

Nafkah idealnya adalah hasil kesepakatan bersama. Komunikasi terbuka antara suami dan istri mengenai kebutuhan rumah tangga, biaya bulanan, hingga rencana keuangan masa depan akan membantu menentukan jumlah yang wajar. 

Berapa jumlah nafkah ini juga sebaiknya menjadi topik pembicaraan keuangan sebelum menikah. Dengan kesepakatan, suami-istri akan terhindar dari konflik, karena setiap keluarga punya standar hidup dan pengeluaran yang berbeda.

4. Bukan Berarti 100% Gaji Suami Buat Istri

Memberi nafkah bukan berarti seluruh gaji suami harus diserahkan kepada istri. Ada pos keuangan lain yang juga penting, seperti tabungan, investasi, cicilan, atau dana darurat. 

Poin paling pentingnya adalah suami mampu mengatur keuangan dengan baik, tetap memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga, dan tetap menyiapkan masa depan finansial bersama.

Baca juga: 7 Perbedaan Ekonomi Syariah dan Ekonomi Konvensional

Simulasi Nafkah Istri dari Gaji Suami

Mengalokasikan penghasilan untuk nafkah dan kebutuhan rumah tangga bisa dilakukan dengan metode 50-30-20. Metode ini mudah diterapkan, di mana kamu hanya perlu fokus pada persentase pembagiannya. 

Artinya, seberapa besar gajimu bertambah, pembagian alokasinya akan tetap, yaitu 50% untuk kebutuhan hidup, 30% untuk keinginan dan cicilan, serta 20% untuk tabungan dan investasi. 

Sebagai contoh, kamu seorang suami dengan gaji Rp6 Juta per bulan. Berikut pengelolaan keuangan keluarganya!

1. Pos Kebutuhan Pokok (50% = Rp3 Juta)

Dari Rp3 Juta ini, kamu bisa alokasikan untuk biaya rumah tangga seperti belanja bulanan, listrik, air, transportasi, dan nafkah untuk istri. Misalnya:

  • Rp1,5 – Rp2 Juta bisa dialokasikan khusus untuk nafkah istri (makan, pakaian, kebutuhan pribadi).
  • Sisanya Rp1 – 1,5 Juta digunakan untuk kebutuhan rumah tangga lain seperti belanja dapur, tagihan listrik/air, serta kebutuhan anak (jika sudah punya).

2. Pos Keinginan (30% = Rp1,8 Juta)

Pos ini biasanya dipakai untuk gaya hidup atau hal-hal non-esensial, termasuk cicilan pinjaman jika ada. Contohnya:

  • Hiburan keluarga Rp500 Ribu, 
  • Rekreasi atau makan di luar Rp300 Ribu
  • Kebutuhan pribadi suami-istri lainnya Rp1 Juta

Nafkah untuk istri tidak selalu masuk di sini, tapi istri juga bisa menikmati pos hiburan ini sebagai bentuk quality time bersama keluarga.

3. Pos Tabungan/Investasi (20% = Rp1,2 Juta)

Pos ini tidak boleh diganggu untuk kebutuhan sehari-hari. Usahakan pos ini disisihkan di awal ketika gaji baru masuk, agar tidak terpakai untuk keperluan lain. Pembagiannya, jika tidak ada tujuan keuangan yang mendesak, alokasikan 20% ini langsung ke dana darurat. 

Namun jika kamu punya tujuan keuangan yang mendesak, 20% atau Rp1,2 Juta ini bisa dibagi menjadi dua, yaitu Rp700 Ribu untuk dana pendidikan anak dan Rp500 Ribu untuk dana darurat. Pastikan kamu punya prioritas keuangan yang sesuai dengan kemampuanmu!

Ketika penghasilan bulanan bertambah seiring kenaikan jabatan, kamu tinggal menambah nominal pada masing-masing item saja. Mudahkan. Cara ini juga ampuh untuk memastikan keuangan tetap sehat!

Ingin tahu seberapa sehat finansial keluargamu saat ini? Kini kamu bisa cek kesehatan keuangan kamu di sini

Dengan melakukan financial fitness check up, kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan pertama kali supaya keuangan kamu lebih sehat dan membuatmu bahagia.

Financial Fitness Check Up bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit. Lalu, kamu juga bisa membahas hasil Financial Fitness Check Up kamu dengan Nyala Trainer di Konsultasi 1 on 1

Dengan sesi konsultasi ini, kamu bisa mengetahui bagaimana strategi yang tepat untuk keuangan kamu.

Banyak sekali manfaat yang bisa kamu dapat, bukan? Jadi, yuk segera atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang agar kamu bisa segera #FinanciallyFit!

Baca juga: 10 Daftar Orang Terkaya di Dunia Versi Forbes, Siapa Saja?


0 Komentar

Max. 0/120 karakter Login Page