Summary
SBN dan deposito sama-sama dapat menjadi pilihan untuk mengelola uang dingin, tetapi memiliki perbedaan dalam potensi imbal hasil, risiko, tenor, likuiditas, dan pajak. Kenali karakteristik keduanya agar dapat memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko.
Bagi kamu yang memiliki uang dingin, memilih instrumen investasi yang tepat menjadi langkah penting agar dana dapat berkembang secara optimal. Dua pilihan yang dipertimbangkan adalah Surat Berharga Negara (SBN) dan deposito.
Baik SBN maupun deposito sama-sama dikenal sebagai instrumen yang relatif stabil, tetapi memiliki karakteristik, potensi imbal hasil, serta tingkat likuiditas yang berbeda.
SBN merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah untuk membiayai kebutuhan negara. Dengan berinvestasi di SBN, investor akan memperoleh imbal hasil sesuai ketentuan setiap seri sekaligus berkontribusi dalam mendukung pembangunan nasional.
Sementara itu, deposito adalah produk simpanan berjangka yang ditawarkan oleh bank dengan tingkat bunga tetap selama jangka waktu tertentu, sehingga sering menjadi pilihan bagi masyarakat yang mengutamakan kepastian imbal hasil.
Lantas, apa saja perbedaan SBN dan deposito? Mana yang lebih menguntungkan untuk menyimpan uang dingin? Simak pembahasan lengkapnya agar kamu dapat menentukan instrumen yang paling sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko.
Baca juga: 14 Manfaat Pasar Modal Bagi Investor, Emiten, Maupun Negara
Beda SBN dan Deposito
Meski sama-sama dipilih untuk menyimpan uang dingin, SBN dan deposito punya karakteristik yang berbeda. Berikut perbandingan di antara keduanya.
1. Potensi Imbal Hasil
SBN menawarkan imbal hasil (kupon) yang kompetitif. Selain itu, besaran kupon untuk jenis tertentu bersifat tetap hingga jatuh tempo sehingga memberikan kepastian pendapatan bagi investor.
Sementara bunga deposito ditentukan oleh masing-masing bank dan dapat berbeda-beda tergantung tenor maupun kondisi suku bunga.
Oleh karena itu, jika mengejar potensi imbal hasil yang lebih optimal, SBN sering menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan.
2. Tingkat Risiko
Baik SBN maupun deposito termasuk instrumen yang relatif rendah risiko. Namun, keduanya memiliki bentuk perlindungan yang berbeda.
SBN diterbitkan dan dijamin oleh pemerintah Indonesia sehingga pembayaran pokok dan kupon menjadi tanggung jawab negara.
Di sisi lain, deposito memperoleh perlindungan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) selama memenuhi syarat dan berada dalam batas nilai simpanan yang dijamin.
3. Jangka Waktu Investasi
SBN punya tenor yang beragam, mulai dari sekitar dua tahun hingga beberapa tahun tergantung seri. Investor akan memperoleh kupon secara berkala hingga masa jatuh tempo.
Sementara itu, deposito menawarkan pilihan tenor yang lebih fleksibel, mulai dari satu bulan hingga 24 bulan. Instrumen ini cocok bagi kamu yang memiliki tujuan keuangan dalam jangka pendek hingga menengah.
4. Likuiditas Dana
Jika dana kemungkinan akan dibutuhkan dalam waktu dekat, aspek likuiditas perlu menjadi pertimbangan. Deposito yang dicairkan sebelum jatuh tempo biasanya dikenakan penalti atau konsekuensi tertentu sesuai kebijakan bank.
SBN ritel tertentu dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah melewati masa minimum kepemilikan (holding period), sehingga investor memiliki peluang untuk mencairkan dana sebelum jatuh tempo. Namun, harga jualnya dapat naik atau turun mengikuti kondisi pasar.
Baca juga: 8 Jenis Investasi untuk Anak Muda, Jadi Cuan Sejak Dini!
5. Pajak atas Imbal Hasil
Baik SBN maupun deposito dikenakan pajak atas imbal hasil yang diterima investor. Namun, besaran pajaknya dapat berbeda sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Perbedaan tarif pajak ini mempengaruhi hasil investasi bersih (net return) yang diterima. Oleh karena itu, perhatikan hasil yang benar-benar akan kamu terima setelah dipotong pajak.
6. Mana yang Lebih Cocok untuk Uang Dingin?
Jika tujuanmu adalah memperoleh potensi imbal hasil yang lebih optimal dan kamu tidak membutuhkan dana tersebut dalam waktu dekat, SBN dapat menjadi pilihan yang menarik untuk dipertimbangkan.
Namun, apabila kamu mengutamakan kepastian, tenor yang lebih fleksibel, serta ingin menyimpan dana dalam jangka waktu relatif singkat, deposito juga tetap menjadi pilihan yang sesuai.
Apa pun instrumen yang dipilih, pastikan keputusan investasi disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan profil risiko yang kamu miliki.
Itulah ulasan mengenai beda SBN dan deposito. Bagaiaman, kamu ingin menyimpan uang dingin di deposito atau SBN? Atau mendiversifikasi uang dingin itu ke dalam dua instrumen tersebut?
Jika demikian, kamu perlu aplikasi yang mendukung penyimpanan uang di deposito dan investasi pada SBN sekaligus. Aplikasi yang bisa kamu pilih adalah OCBC mobile.
OCBC mobile adalah mobile banking dari OCBC yang tidak hanya memudahkan transaksi harian, tetapi juga membantu penggunanya untuk investasi, termasuk deposito dan SBN atau Obligasi Pemerintah.
Investasi Obligasi di OCBC menawarkan banyak keuntungan, seperti modal awal mulai dari Rp1 Juta, transaksi yang mudah melalui OCBC mobile, bisa diperjualbelikan sebelum jatuh tempo, serta bisa dihubungkan dengan fitur Life Goals untuk mencapai tujuan keuangan tertentu.
Namun sebelum investasi, kamu perlu cek kesehatan finansial dengan mengikuti Financial Fitness Check Up dari Ruang MeNyala yang bisa memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit.
Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa mendiskusikan hasilnya melalui layanan 1 on 1 Consultation dengan Nyala Trainer.
Melalui layanan ini, kamu bisa mengetahui bagaimana strategi yang tepat untuk memperbaiki masalah keuangan kamu, termasuk menemukan instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuanganmu.
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang MeNyala sekarang untuk mencapai #FUNanciallyfit!
Baca juga: 12 Rekomendasi Film tentang Investasi Saham, Asik dan Seru!