Summary
Banyak investor pemula melakukan kesalahan seperti berinvestasi tanpa tujuan, mengabaikan profil risiko, mengejar keuntungan instan, panik saat pasar berfluktuasi, hingga tidak melakukan diversifikasi dan evaluasi portofolio. Padahal, investasi yang sehat dimulai dari memahami kondisi keuangan, menentukan tujuan yang jelas, serta memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, kamu dapat membangun kebiasaan investasi yang lebih disiplin dan meningkatkan peluang mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Baru mulai investasi? Kenali kesalahan investor pemula yang sering terjadi agar kamu bisa mengelola investasi dengan lebih bijak dan mencapai tujuan keuangan di 2026.
Kemudahan membuka rekening investasi serta akses ke berbagai instrumen melalui platform digital membuat siapa saja kini bisa mulai berinvestasi dengan lebih mudah, termasuk pemula.
Meski demikian, memulai investasi tidak hanya soal memilih instrumen yang dianggap menguntungkan. Banyak investor pemula yang tanpa sadar melakukan kesalahan, mulai dari berinvestasi tanpa tujuan yang jelas hingga mengambil keputusan berdasarkan emosi atau tren sesaat.
Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat menghambat pertumbuhan aset dan membuat tujuan keuangan menjadi lebih sulit tercapai.
Baca juga: 8 Jenis Investasi untuk Anak Muda, Jadi Cuan Sejak Dini!
Kesalahan Investor yang Harus Dihindari
Setiap investor tentu pernah melakukan kesalahan, terutama saat baru mulai berinvestasi. Hal yang terpenting bukan menghindari kesalahan sepenuhnya, melainkan mengenalinya sejak awal. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering dilakukan investor pemula.
1. Investasi Tanpa Tujuan
Banyak orang mulai berinvestasi hanya karena ikut tren atau melihat orang lain memperoleh keuntungan. Padahal, investasi harus memiliki tujuan yang jelas, misalnya untuk dana pendidikan, membeli rumah, atau mempersiapkan masa pensiun.
Tujuan spesifik dalam berinvestasi itu penting. Pasalnya, tujuan akan membuatmu lebih mudah menentukan instrumen investasi, jangka waktu, hingga tingkat risiko yang sesuai.
2. Nggak Paham Profil Risiko
Setiap orang punya tingkat toleransi risiko yang berbeda. Ada yang nyaman dengan fluktuasi nilai investasi, tetapi ada juga yang lebih memilih instrumen yang cenderung stabil.
Oleh karena itu, jangan memilih produk investasi hanya karena sedang populer. Pahami terlebih dahulu profil risiko agar instrumen yang dipilih sesuai dengan kondisi keuangan dan tujuan investasimu.
3. Mengharap Keuntungan Instan
Investasi bukan cara untuk cepat kaya dalam waktu singkat. Sayangnya, masih banyak investor pemula yang berharap bisa memperoleh keuntungan besar hanya dalam hitungan hari atau minggu.
Padahal, investasi dirancang untuk membantu mengembangkan aset dalam jangka menengah hingga panjang. Punya ekspektasi yang realistis akan membantu kamu tetap konsisten meski kondisi pasar sedang berfluktuasi.
4. Panik saat Pasar Berfluktuasi
Naik turunnya nilai investasi merupakan hal yang wajar. Namun, tidak sedikit investor pemula yang langsung menjual asetnya ketika harga turun karena takut mengalami kerugian lebih besar.
Keputusan yang diambil berdasarkan emosi justru membuat potensi keuntungan jangka panjang menjadi hilang. Oleh karena itu, penting untuk tetap berpegang pada tujuan investasi yang telah ditetapkan sejak awal.
Baca juga: 4 Cara Menghitung Keuntungan Saham dan Contohnya Tuk Pemula!
5. Tidak Melakukan Diversifikasi
Menempatkan seluruh dana pada satu instrumen atau satu jenis aset dapat meningkatkan risiko investasi. Jika instrumen tersebut mengalami penurunan, nilai portofolio juga akan ikut terdampak secara signifikan.
Diversifikasi membantu menyebarkan risiko dengan mengalokasikan dana ke beberapa instrumen yang berbeda sesuai profil risiko dan tujuan keuangan.
6. Mengabaikan Evaluasi Portofolio
Investasi nggak cukup dilakukan sekali lalu dibiarkan begitu saja. Seiring waktu, kondisi pasar maupun tujuan keuangan dapat berubah sehingga portofolio juga perlu ditinjau secara berkala.
Evaluasi membantu memastikan komposisi investasi masih sesuai dengan target yang ingin dicapai serta memberikan kesempatan untuk melakukan penyesuaian jika diperlukan.
7. Investasi Melebihi Kemampuan Finansial
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah memaksakan diri berinvestasi dengan nominal yang terlalu besar hingga mengganggu kebutuhan sehari-hari atau dana darurat.
Idealnya, investasi dilakukan menggunakan uang dingin atau dana yang memang telah dialokasikan untuk tujuan tersebut.
Dengan begitu, kamu dapat berinvestasi secara lebih tenang tanpa harus khawatir kebutuhan pokok atau kondisi keuangan terganggu ketika terjadi fluktuasi pasar.
Baca juga: Financial Planning Identik dengan Hemat, Pelit, dan Perhitungan, Benarkah?
Instrumen Investasi untuk Pemula
Setelah memahami berbagai kesalahan yang perlu dihindari, langkah berikutnya adalah memilih instrumen investasi yang sesuai. Bagi investor pemula, tidak perlu terburu-buru memilih produk yang menawarkan potensi keuntungan tinggi.
Yang lebih penting adalah memulai dari instrumen yang mudah dipahami, sesuai dengan profil risiko, dan dapat membantu membangun kebiasaan berinvestasi secara konsisten.
Salah satu instrumen yang sering menjadi pilihan bagi pemula adalah reksa dana. Selain dapat dimulai dengan modal yang relatif terjangkau, reksa dana juga dikelola oleh manajer investasi profesional sehingga cocok bagi kamu yang belum memiliki banyak pengalaman dalam berinvestasi.
Membeli reksa dana untuk pertama kalinya itu sangat mudah. Apalagi kamu beli melalui OCBC mobile, jenis produk dan manajer investasinya sangat beragam.
Selain itu, OCBC mobile juga memudahkan dalam mendaftar Single Investor Identification (SID). SID ini adalah nomor identitas tunggal yang diterbitkan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, yang wajib dimiliki calon investor sebelum berinvestasi, termasuk pada reksa dana.
Langkah pertama untuk beli reksa dana adalah dengan daftar membuat SID terlebih dulu. Berikut caranya:
- Buka dan login OCBC mobile
- Pilih menu Investasi, kemudian pilih Reksa Dana, pada bagian atas ada pilihan registrasi dan diarahkan ke menu pengisian risk profile.
- Isi data diri dan lengkapi dokumen yang diminta
- Lengkapi profil risiko dengan jawab pertanyaan
- Klik Lanjut, dan SID akan diproses dengan SLA 1 - 3 Hari Kerja.
Setelah SID berhasil diproses, berikutnya kamu bisa langsung membeli reksa dana melalui OCBC mobile. Berikut caranya:
- Buka dan login OCBC mobile
- Pilih menu Investasi, lalu pilih Reksa Dana
- Pilih Reksa Dana yang ingin dibeli
- Masukkan nominal transaksi, klik lanjutkan
- Pilih Rekening yang akan digunakan
- Periksa ringkasan transaksi
- Cek Syarat dan Ketentuan
- Masukkan PIN transaksi
- Pembelian produk investasi berhasil
Pertanyaannya, apakah reksa dana merupakan instrumen investasi yang cocok buat kamu? Nah kamu bisa tahu jawabannya dengan melihat seberapa sehat finansialmu terlebih dulu.
Sekarang cek kondisi finansial juga sangat mudah, yaitu melalui Financial Fitness Check Up untuk bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit.
Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa mendiskusikan hasilnya melalui layanan 1 on 1 Consultation dengan Nyala Trainer.
Melalui layanan ini, kamu bisa mengetahui bagaimana strategi yang tepat untuk memperbaiki masalah keuangan kamu, termasuk menemukan instrumen investasi yang tepat!
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang MeNyala sekarang untuk mencapai #FUNanciallyfit!
Baca juga: Yuk Intip Daftar Portofolio Saham Lo Kheng Hong Saat Ini!