Generasi Z dan milenial dihadapkan pada beban cicilan dan krisis finansial. Simak faktor penyebab dan cara bijak mengelola keuangan sejak dini!
Masalah finansial seringkali jadi “teman akrab” generasi muda yang baru memulai karier dan dapat penghasilan. Merasa punya uang sendiri, mereka cenderung belanja apapun yang diinginkan.
Selain itu, paparan media sosial juga mendorong para generasi muda ini jadi lebih konsumtif. Alasannya, mereka nggak mau ketinggalan tren sehingga menjadi pribadi yang Fear of Missing Out alias FOMO.
Masalahnya, keinginan yang menggunung itu nggak diimbangi oleh besarnya penghasilan. Sebagai angkatan kerja baru, tentu saja gaji mereka masih terbatas. Oleh karenanya, tidak sedikit dari mereka yang memilih utang untuk memenuhi keinginan dan gaya hidup.
Baca juga: Financial Planning untuk Gen Z yang Punya Prinsip Yolo, Fomo, dan Fopo
Penyebab Masalah Finansial pada Gen Z - Milenial
Ketakutan baru Gen Z dan Milenial saat ada dua, yaitu tumpukan cicilan dan krisis finansial yang terjadi. Untuk yang kedua pembahasannya lebih kompleks, karena itu menyangkut makro dan mikro ekonomi.
Sementara ketakutan pertama, yaitu tumpukan cicilan, sifatnya lebih personal masing-masing yang bisa ditanggulangi. Lalu apa saja faktor penyebab yang membuat cicilan menumpuk? Berikut beberapa di antaranya!
1. Gaya Hidup Konsumtif
Generasi muda tumbuh di era digital yang serba instan dan penuh godaan visual. Media sosial membuat standar hidup terlihat tinggi, seperti keinginan nongkrong di tempat estetik, liburan ke luar kota, sampai gadget terbaru yang seolah wajib dimiliki.
Dorongan untuk “tidak mau ketinggalan” inilah yang membuat pengeluaran membengkak. Uang lebih cepat habis bukan karena kebutuhan, tapi karena gaya hidup.
Solusinya, latih kebiasaan mindful spending, yaitu bedakan antara keinginan dan kebutuhan sebelum membeli sesuatu. Membatasi waktu scrolling media sosial juga bisa membantu menekan dorongan konsumtif.
2. Tidak Punya Perencanaan Keuangan
Gen Z dan milenial punya penghasilan rutin, tapi tidak tahu ke mana uangnya pergi. Tidak ada catatan pengeluaran, tidak ada budgeting, dan tidak ada target finansial yang jelas.
Akibatnya, ketika terjadi hal darurat seperti kehilangan pekerjaan atau kenaikan harga barang, keuangan langsung terguncang. Ujung-ujungnya terjerumus lagi ke lembah utang.
Solusinya adalah mulai membuat rencana keuangan sederhana dengan metode 50-30-20, yaitu 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk gaya hidup, serta 20% untuk tabungan dan investasi.
3. Ketergantungan pada Utang Konsumtif
Kemudahan akses pinjaman online, paylater, dan kartu kredit membuat anak muda merasa punya “uang tambahan” padahal sebenarnya sedang menumpuk beban.
Utang konsumtif biasanya dimulai dari hal kecil, seperti beli gadget baru, bayar tiket konser, atau belanja flash sale. Namun dampaknya bisa panjang karena bunga dan cicilan yang menumpuk.
Solusinya, pahami bahwa utang hanya sehat jika digunakan untuk hal produktif, seperti modal usaha atau pengembangan diri. Pastikan rasio utang tidak lebih dari 30% penghasilan, agar kemampuan bayar terjaga dan tidak mengganggu pos keuangan lain.
4. Tidak Punya Dana Darurat dan Perlindungan Keuangan
Krisis ekonomi atau PHK bisa terjadi kapan saja, dan tanpa dana darurat, keuangan pribadi langsung goyah. Banyak milenial dan Gen Z yang masih hidup paycheck to paycheck, tanpa tabungan cadangan.
Solusinya, mulai bangun dana darurat minimal 6-12 kali pengeluaran bulanan, dan pertimbangkan punya asuransi dasar seperti kesehatan dan jiwa. Dengan begitu, kamu tidak perlu panik ketika kondisi tak terduga datang.
5. Kurang Literasi Finansial Sejak Dini
Sebagian besar anak muda tidak pernah benar-benar diajarkan tentang manajemen keuangan, investasi, atau risiko utang. Akibatnya, keputusan finansial sering diambil tanpa pertimbangan matang.
Misalnya, memilih investasi karena ikut tren, bukan karena paham risikonya. Kurangnya literasi juga membuat banyak orang mudah tertipu investasi bodong.
Solusinya, mulai belajar dari sumber terpercaya bisa lewat buku, podcast, kursus finansial, atau mengikuti edukasi dari lembaga keuangan resmi seperti kelas finansial Ruang meNYALA.
Bicara soal kelas finansial, Ruang meNYALA edisi Kamis 23 Oktober 2025 akan membahas tentang masalah finansial Gen Z dan Milenial dengan tema “Financial Nightmares in This Economy”.
Kelas ini digelar secara online melalui Zoom pada pukul 16.30 - 17.00 WIB. Ada dua narasumber yang akan berbagi perspektif, yaitu Entrepreneur Astuti Nerlisa dan Wealth Research & Strategist Specialist OCBC, Wage Fernando.
Setelah ikut kelas, kamu bisa cek kondisi finansial dengan mengikuti Financial Fitness Check Up dari Ruang meNYALA.
Hasil FFCU bisa langsung kamu konsultasikan bersama Nyala Trainer melalui sesi konsultasi 1 on 1. Dalam sesi ini, kamu akan tahu seberapa sehat keuanganmu dan apa yang perlu diubah agar lebih siap menghadapi masalah finansial di masa depan.
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang guna mencapai #FinanciallyFit!
Baca juga: Ini 7 Kesalahan Keuangan Gen Z yang Tidak Boleh Dilakukan