Merencanakan keuangan itu suatu keharusan bagi setiap orang, apapun kondisinya. Pasalnya, keuangan yang terencana dan terkelola akan memudahkan dalam hidup, termasuk untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Merencanakan keuangan sendiri bisa dilakukan dengan berbagai cara atau metode. Salah satu cara merencanakan keuangan yang tepat adalah dengan menggunakan konsep piramida keuangan.
Piramida keuangan adalah konsep yang menggambarkan tahapan dalam membangun kondisi keuangan yang sehat dan berkelanjutan, dimulai dari kebutuhan dasar hingga perencanaan jangka panjang.
Disebut piramida karena bentuknya seperti bangunan piramida. Dalam metode ini, kamu dituntut untuk memperkuat pondasi yaitu cash flow yang baik sebelum berbicara tentang hal-hal lain seperti perlindungan, investasi, dana pensiun dan sebagainya.
Baca juga: 5 Realita VS Ekspektasi Keuangan dalam Hubungan Rumah Tangga
Tingkatan dalam Piramida Keuangan
Piramida keuangan terdiri dari 4 tingkatan yang urutannya disesuaikan dengan skala kebutuhan. Tingkat paling bawah adalah Financial Basic, lalu Financial Safety, Financial Growth, Financial Freedom.
- Financial Basic, memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari;
- Financial Safety, mempersiapkan keuangan untuk menghadapi situasi darurat;
- Financial Growth, membangun keuangan untuk jangka panjang;
- Financial Freedom, memiliki penghasilan pasif sehingga merdeka secara finansial.
Berikut penjelasan lebih rinci terkait tingkatan dalam piramida keuangan tersebut.
1. Financial Basic
Pada tahap ini, kamu diajak untuk memeriksa kembali kondisi cash flow, apakah sudah baik atau belum. Selain itu, kamu juga diajak untuk membagi pendapatan dalam beberapa pos keuangan dengan metode tertentu, seperti metode 50-30-20.
Ada 3 pilar yang jadi indikator apakah financial basic dalam kondisi baik, yaitu mampu membayar KPR setiap bulan, mampu berbelanja di luar kebutuhan pokok tanpa mengganggu keuangan, dan membayar cicilan utang dengan baik.
2. Financial Safety
Setelah cashflow dinyatakan baik, dalam tahap ini kamu akan menyadari pentingnya menjaga keuangan dari kondisi yang tidak pasti. Caranya dengan menabung, punya dana darurat, dan memiliki proteksi.
Ada enam pilar indikator dalam tahapan ini, yaitu:
- Menabung rutin;
- Mampu memenuhi kebutuhan keuangan dalam 1 tahun ke depan;
- Memiliki dana yang cukup jika terjadi krisis (misal 6 kali pendapatan bulanan);
- Memiliki dana yang cukup untuk bertahan hidup ketika kehilangan pekerjaan (minimal 6 kali pengeluaran bulanan);
- Mampu membayar biaya pengobatan tanpa mengganggu rencana keuangan;
- Memiliki dana yang cukup untuk memenuhi 12 bulan kebutuhan keluarga jika meninggal.
3. Financial Growth
Cashflow sudah baik, dana darurat sudah cukup, berikutnya kamu harus memastikan uang yang dimiliki itu bertumbuh. Caranya tentu saja dengan investasi sesuai dengan profil risiko. Selain itu kamu juga dituntut untuk punya perencanaan pensiun.
Ada dua pilar indikator untuk tahap ini, yaitu sudah punya investasi dan sudah punya dana yang cukup untuk memasuki usia pensiun.
4. Financial Freedom
Pada tahap ini, kamu sudah memiliki aset yang berkembang dan uang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Artinya, meski sudah pensiun dan tidak dapat gaji, kamu nggak akan kekurangan karena tetap dapat uang dari investasi yang dibangun selama ini.
Satu pilar indikator yang berlaku pada tingkatan ini adalah punya penghasilan pasif secara rutin.
Baca juga: Tujuan Keuangan: Manfaat, Contoh, dan Cara Menentukannya
Bukti Kamu Belum Tahu Piramida Keuangan
Banyak orang yang menganggap piramida keuangan hanya sebatas teori. Padahal jika diterapkan dengan benar, konsep ini bisa membantu dalam mengalokasikan uang dan mempersiapkan masa depan.
Berikut adalah tanda kamu belum tahu dan belum menerapkan piramida keuangan.
1. Belum Punya Tujuan Keuangan
Kalau belum tahu apa yang ingin dicapai dari hasil kerja, misalnya beli rumah, dana nikah, atau pensiun di usia 50, itu tanda paling jelas kamu belum mulai membangun piramida keuangan dari dasarnya.
Tujuan keuangan adalah arah. Tanpa tujuan, kamu seperti berkendara tanpa GPS, bisa saja jalan terus, tapi nggak tahu akan sampai ke mana. Tujuan inilah yang akan menentukan cara menabung, memilih instrumen investasi, dan mengatur pengeluaran.
2. Gaji Habis Buat Gaya Hidup
Kalau setiap bulan gaji selalu habis bahkan sebelum tanggal tua, dan kamu bingung ke mana perginya uangmu, bisa jadi kamu terlalu memprioritaskan gaya hidup.
Dalam piramida keuangan, fondasi dimulai dari pengeluaran yang dikendalikan, bukan gaya hidup yang dituruti. Ini bukan berarti kamu nggak boleh bersenang-senang, tapi hanya perlu bijak dan dibatasi.
3. Nggak Bisa Bedain Kebutuhan dan Keinginan
Kalau kamu masih bingung ngebedain mana barang yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang cuma kamu pengen, kamu harus waspada.
Kebutuhan seperti makan, sewa tempat tinggal, bayar BPJS, atau transportasi kerja adalah hal wajib.
Namun, jika kamu meyakini bahwa beli gadget terbaru atau skincare jutaan rupiah adalah kebutuhan mendesak, bisa jadi kamu terjebak pada ilusi konsumsi.
4. Tak Punya Dana Darurat
Dana darurat bukan cuma buat "jaga-jaga", tapi ibarat air cadangan di rumah saat PDAM mati. Kalau belum punya simpanan 6-12 bulan dari total pengeluaran, berarti kamu masih berada di zona rawan.
Tanpa dana darurat, kamu akan terpaksa berutang atau menjual aset saat krisis datang. Tentunya ini bisa bikin kondisi keuangan jadi tidak stabil dan sulit bangkit.
Baca juga: 10 Cara Mengatur Keuangan Generasi Sandwich, Anti Galau!
5. Kebelet Investasi
Investasi itu memang bagus dan sangat dianjurkan, tapi bukan berarti dilakukan secara serampangan. Dalam piramida keuangan, kamu diajari untuk tidak langsung lompat ke investasi, melainkan membangun pondasi keuangan dan dana darurat dulu.
Prinsip investasi itu harus dilakukan saat pondasi keuangan sudah aman, punya dana darurat, dan ada uang lebih untuk diinvestasikan.
Jika kamu kebelet investasi tanpa pondasi kuat, sedikit guncangan pasar bisa bikin panik dan malah kehilangan semua modal. Jadi, jangan lompat ke puncak piramida sebelum pondasinya kokoh.
6. Utang Tak Terkendali
Punya utang bukan selalu buruk, tapi kalau sudah punya cicilan di mana-mana, tagihan kartu kredit menumpuk, dan gali lubang tutup lubang, kamu sedang berada di posisi bahaya.
Piramida keuangan mengajarkan bahwa utang harus dikelola dengan bijak. Rasio utang sebaiknya tidak lebih dari 30% dari total penghasilan bulanan dan tidak boleh lebih.
7. Mengabaikan Dana Pensiun
Dana pensiun sering disepelekan karena dianggap masih jauh. Padahal justru karena pensiun itu pasti datang, kamu harus mulai mempersiapkan dari sekarang.
Menyusun dana pensiun sedini mungkin akan meringankan beban masa depan dan memberi lebih banyak pilihan: mau tetap kerja karena ingin, bukan karena butuh.
Itulah beberapa bukti dan tanda kamu belum tahu piramida keuangan. Pengaplikasian piramida keuangan sangat penting untuk menjaga keuangan tetap sehat dan stabil.
Penasaran seberapa sehat finansialmu? Sekarang cek kondisi finansial sangat mudah, yaitu melalui Financial Fitness Check Up yang bisa memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit.
Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa mendiskusikan hasilnya melalui layanan konsultasi 1 on 1 dengan Nyala Trainer. Melalui layanan ini, kamu bisa mengetahui bagaimana strategi yang tepat untuk memperbaiki masalah keuangan kamu.
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang guna mencapai #FinanciallyFit!
Baca juga: Gen Sandwich vs Biaya Hidup Jakarta 2025