Menjadi sandwich generation memang berat. Apalagi harus hidup di kota dengan biaya hidup yang tinggi seperti Jakarta.
Jika bisa memilih, tidak akan ada yang mau memainkan peran sebagai sandwich generation.
Bagaimana tidak, mereka dituntut memenuhi kebutuhan keluarga, yang sering kali harus mengorbankan kebutuhan pribadi.
Gambaran tentang sandwich generation ini kembali diangkat dalam film berjudul “1 Kakak 7 Ponakan”. Film ini mengisahkan Moko, seorang arsitek muda yang sedang merintis karier.
Setelah kematian kedua kakaknya, Moko harus mengambil alih tanggung jawab sebagai orang tua tunggal bagi keponakan-keponakannya yang masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang.
Alhasil, Moko harus mengubur mimpi dan cita-citanya. Ia harus mengurus keponakannya yang masih sekolah, bahkan ada yang masih bayi.
Kehidupan seorang sandwich generation seperti Moko ini tentu akan semakin berat jika ia hidup di kota besar seperti Jakarta. Kota ini merupakan kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia.
Menurut survei BPS, biaya hidup di Jakarta ditaksir mencapai Rp 14,88 juta per bulan, untuk keluarga yang terdiri dari 2-6 orang.
Hanya saja, taksiran biaya hidup yang tinggi itu belum dipenuhi oleh Upah Minimum Provinsi (UMP).
Seperti diketahui, UMP Jakarta pada 2025 mengalami kenaikan sebesar 6,5% menjadi Rp 5.396.760.
Baca juga: Financial Planning Identik dengan Hemat, Pelit, dan Perhitungan, Benarkah?
Gen Sandwich vs Biaya Hidup Jakarta 2025
Generasi sandwich seperti Moko harus menghadapi tekanan besar dalam menyeimbangkan tanggung jawab terhadap keluarga dan mengejar tujuan pribadi.
Apalagi jika tinggal di Jakarta dengan biaya hidupnya yang tinggi. Maka, Gen Sandwich harus pintar mengelola uang agar kebutuhan dirinya dan keluarga tetap terpenuhi.
Nah, jika kamu juga harus mencukupi kebutuhan keluarga alias sandwich generation, simak beberapa tips berikut agar kamu bisa memenuhi biaya hidup di Jakarta yang tinggi.
1. Komunikasi dengan Keluarga
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menjalin komunikasi dengan keluarga. Komunikasi ini termasuk menceritakan apa tujuan keuanganmu, baik jangka pendek maupun panjang.
Harapannya keluarga bisa memahami yang menjadi fokus keuanganmu. Sehingga mereka bisa maklum ketika kamu tidak bisa selalu menanggung keperluan keluarga.
2. Buat Anggaran Bulanan
Buatlah daftar kebutuhan keluarga secara rinci, lalu susun prioritas berdasarkan urgensinya. Misalnya, kebutuhan makan, pendidikan anak, dan biaya kesehatan harus menjadi prioritas utama.
Gunakan prinsip 50/30/20, yaitu 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi, tetapi sesuaikan dengan realitas di keluargamu.
Dalam menjaga kedisiplinan anggaran, kamu bisa memanfaatkan aplikasi pengelola keuangan untuk melacak pengeluaran dan pendapatan.
Dengan begitu, kamu bisa mengetahui pos mana yang paling boros dan segera mengambil langkah untuk mengendalikannya. Beberapa aplikasi bahkan bisa memberikan saran keuangan berbasis data pengeluaran.
3. Mulai Investasi
Menabung memang kebiasaan yang baik. Namun jika tujuannya agar keinginan dan tujuan keuangan segera tercapai, maka investasi adalah cara terbaik yang bisa dilakukan.
Kamu harus mulai investasi, meski dengan angka yang kecil. Misalnya, kamu mengalokasikan 20% untuk tabungan dan investasi, maka kamu bisa menggunakan separuh dari alokasi ini untuk investasi.
Kenali dengan baik karakteristik aset investasi yang kamu pilih. Selain itu, pastikan aset investasi itu sesuai dengan profil risikomu sendiri.
Karena statusmu sebagai sandwich generation, sangat penting untuk memastikan aset yang kamu pilih itu termasuk aset likuid dan mudah diakses.
4. Dana Darurat Harus Selalu Ready
Dana darurat merupakan pos keuangan yang harus dimiliki oleh siapa saja, terlebih sandwich generation. Dengan begitu, kamu punya uang yang cukup untuk mengatasi kondisi darurat, tanpa harus mengorbankan tabungan.
Jumlah dana darurat menyesuaikan kondisimu. Misalnya, kamu yang masih lajang perlu dana darurat 3-6 kali pengeluaran bulanan, menikah 6-9 kali, berkeluarga 9-12 kali.
Keperluan dana darurat ini tentu tidak harus dipenuhi secara langsung. Kamu bisa mencicilnya per bulan.
5. Cari Penghasilan Tambahan
Mencari pekerjaan sampingan untuk mendapat penghasilan tambahan ini penting bagi sandwich generation.
Kamu bisa memanfaatkan skill yang dimiliki untuk mendapat penghasilan tambahan, seperti menjadi freelancer, membuka kelas online, jualan online, atau menjadi konten kreator dan affiliate marketing.
Selain itu, kamu sebagai generasi sandwich juga perlu mengetahui seberapa sehat keuangan sebelum memutuskan untuk mewujudkan tujuan keuangan.
Sebagai sandwich generation, mengelola keuangan dengan baik merupakan keharusan. Dengan pengelolaan, kamu bisa mengontrol pengeluaran agar tetap sesuai dengan kebutuhan.
Dalam mengelola keuangan, kamu dituntut untuk punya wawasan literasi keuangan yang memadai.
Nah jika kamu seorang karyawan dan ingin belajar literasi finansial, kamu bisa usulkan kantormu untuk berkolaborasi dalam program MeNYALA Goes To Office (MGTO) dari Ruang meNYALA, loh!
MeNYALA Goes To Office (MGTO) adalah program dari Ruang MeNyala yang mengajak kantor kamu untuk berkolaborasi membuat aktivitas yang seru dan fun dengan membahas berbagai topik finansial secara ringan, terkini, dan berbobot.
Melalui program ini, kantormu akan mendapatkan beberapa benefit, antara lain pembicara profesional dari OCBC, Sesi 1-on-1 Konsultasi Finansial dengan Financial Planner bersertifikasi gratis, serta Financial Check Up gratis.
Syarat dan cara mengikuti program ini juga sangat mudah, yaitu:
- Buka link pendaftaran ini; lakukan pendaftaran selaku PIC kantor
- Klik “Daftar”, lalu lengkapi data kantor, termasuk data diri karyawan;
- Minimum karyawan yang bisa mengikuti program adalah 50 orang;
- Kantor harus berada di wilayah Jabodetabek;
- Karyawan peserta harus bersedia menjadi member Ruang meNYALA.
Kantor yang terpilih akan dihubungi oleh tim Ruang meNYALA melalui nomor berikut: 0852-8157-8178.
Selain program kolaborasi, Ruang meNYALA juga menyediakan fasilitas bagi masyarakat yang ingin memeriksa kesehatan finansial melalui program Financial Fitness Check Up dari Ruang meNYALA.
Dengan melakukan financial fitness check up, kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan pertama kali supaya keuangan kamu lebih sehat dan membuatmu bahagia.
Financial Fitness Check Up bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit. Lalu, kamu juga bisa membahas hasil Financial Fitness Check Up kamu dengan Nyala Trainer di Konsultasi 1 on 1.
Dengan sesi konsultasi ini, kamu bisa mengetahui bagaimana strategi yang tepat untuk keuangan kamu.
Banyak sekali manfaat yang bisa kamu dapat, bukan? Jadi, yuk segera atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang agar kamu bisa segera #FinanciallyFit!
Baca juga: Jangan Asal, Siapkan Hal Ini Sebelum Resign!