Investasi itu bukan perkara mudah. Punya uang banyak nggak menjamin investasi yang dilakukan bakal menguntungkan. Pasalnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan investasi.
Salah satunya adalah tentang profil risiko investasi, yaitu indikator atau petunjuk untuk mengetahui tingkat risiko investasi yang bisa ditoleransi atau diterima oleh seorang investor dalam mengalokasikan dananya.
Bank OCBC mengklasifikasikan profil risiko investor ke dalam lima kategori utama, yang membantu nasabah menentukan strategi investasi sesuai dengan toleransi risiko dan tujuan keuangan mereka.
Kelima profil risiko itu adalah konservatif, seimbang, pertumbuhan, agresif, dan sangat agresif. Mengetahui profil risiko sangat penting untuk menentukan strategi investasi yang tepat.
Untuk mengetahui profil risiko, OCBC menyediakan layanan untuk membantu nasabah mengidentifikasi profil risiko mereka melalui kuesioner dan konsultasi dengan dengan menghubungi Financial Advisor OCBC.
Selain profil risiko, karakter setiap aset juga mempengaruhi keberhasilan investasi. Misalnya investasi emas cocok ketika kondisi perekonomian sedang sulit, nilai mata uang anjlok, dan inflasi.
Atau saham, yang dikenal sangat fluktuatif dan dipengaruhi banyak faktor mulai dari kinerja perusahaan, kondisi ekonomi makro, hingga sentimen pasar. Tak heran, saham dijuluki sebagai high risk high return asset.
Baca juga: Arti Teori High Risk High Return dalam Investasi
Investasi dengan Return Optimal
Tinggi rendahnya return suatu aset itu akan dipengaruhi banyak hal, seperti suku bunga, inflasi, nilai tukar, risiko pasar, hingga risiko likuiditas. Namun demikian, imbal hasil dari investasi masih akan tetap lebih tinggi ketimbang uang hanya ditabung di rekening saja.
Di antara banyaknya aset investasi, berikut adalah pilihan aset untuk mengoptimalkan potensi return.
1. Deposito
Deposito adalah instrumen investasi berupa uang yang disimpan dalam rekening dengan jangka waktu tertentu. Bank atau lembaga keuangan tempat menyimpan uang akan memberikan bilyet sebagai bukti kepemilikan deposito.
Cara kerja deposito hampir mirip dengan Tabungan Berjangka. Deposito memiliki jangka waktu tertentu yang mana uang di dalamnya tidak boleh ditarik oleh pemilik.
Deposito baru bisa dicairkan sesuai dengan tanggal jatuh temponya, biasanya jatuh tempo 1, 3, 6, atau 12 bulan. Bila dicairkan sebelum jatuh tempo, maka akan kena penalti sesuai dengan kebijakan bank yang bersangkutan.
Deposito menawarkan suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan tabungan biasa. Hal ini membuat deposito menjadi pilihan menarik bagi kamu yang ingin mendapatkan imbal hasil tanpa risiko fluktuasi dari pergerakan harga
2. Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)
Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang dijual kepada individu/perseorangan Warga Negara Indonesia melalui agen penjual di pasar perdana dengan volume minimum yang telah ditentukan.
Di Indonesia, aset ini sering disebut dengan ORI atau Obligasi Ritel Indonesia dan SBR atau Saving Bond Ritel. ORI menawarkan kupon tetap yang dibayarkan secara berkala. Karena diterbitkan oleh pemerintah, risiko gagal bayarnya sangat kecil.
Imbal hasil yang dijanjikan pun cukup menarik, lebih tinggi dari deposito. Instrumen ini cocok untuk investor yang menginginkan pendapatan pasif rutin dengan risiko yang minim.
Surat Berharga Syariah Negara diterbitkan dalam dua produk, yaitu sukuk ritel dan sukuk tabungan. Sukuk Ritel adalah produk investasi syariah yang ditawarkan oleh Pemerintah kepada individu. Instrumen ini menawarkan imbal hasil tetap dan dijamin oleh negara, serta bebas dari unsur riba.
Imbal hasil bersaing dengan obligasi konvensional dan sangat cocok untuk investor yang ingin investasi sesuai dengan prinsip syariah tanpa mengorbankan potensi imbal hasil.
Secara umum, aset ini punya karakter sebagai berikut:
- Pengelolaan Investasi dengan prinsip syariah
- Pemesanan mulai dari Rp 1 Juta
- Tenor 3 dan 5 tahun
- Imbalan tetap dibayarkan setiap bulan
- Dapat diperdagangkan di pasar sekunder antar investor domestik
3. Emas
Emas memang merupakan safe haven asset, yang punya lindung nilai terhadap inflasi. Harganya cenderung naik dari tahun ke tahun, dan termasuk aset investasi jangka panjang.
Awal tahun 2025, emas menjadi top of mind pilihan investasi masyarakat. Hal ini terjadi karena harganya yang melambung, bahkan memecahkan rekor harga tertingginya pada 22 April 2025, yang mencapai Rp2.039.000 per gram.
Investasi emas juga bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari membeli emas batangan fisik, perhiasan emas, hingga menabung emas digital.
Dari berbagai pilihan tersebut, investasi pada emas digital bisa jadi solusi yang lebih praktis. Selain aman, emas digital juga nggak perlu tempat penyimpanan layaknya emas fisik.
4. Saham
Saham memberikan potensi return tertinggi di antara semua instrumen, tapi juga disertai risiko yang tinggi. Keuntungan bisa berasal dari dividen maupun capital gain.
Harga saham bisa naik turun drastis tergantung kondisi pasar, kinerja perusahaan, dan sentimen investor. Cocok untuk investor agresif yang siap menghadapi fluktuasi dan bermain dalam jangka panjang.
Di antara banyaknya saham yang beredar di pasar, kamu bisa memilih saham blue chip. Ini adalah saham yang diterbitkan oleh perusahaan besar, mapan, dan sehat secara finansial dengan reputasi yang sangat baik.
Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak punya definisi resmi terkait saham blue chip. Namun, para pelaku pasar saham seringkali menjadikan Indeks LQ45 sebagai rujukan ketika berbicara tentang saham blue chip.
Indeks LQ45 adalah indeks pasar saham yang terdiri dari 45 perusahaan yang memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar terbesar di BEI.
5. Reksa Dana Saham
Reksa dana menjadi salah satu alternatif investasi bagi investor, khususnya yang punya modal kecil dan tidak punya banyak waktu untuk menghitung dan menganalisis risiko atas investasi mereka.
Reksa dana saham menggabungkan dana dari banyak investor untuk dikelola oleh manajer investasi ke dalam portofolio saham. Return dari reksa dana saham akan bergantung pada performa saham-saham yang dipilih.
Meskipun risikonya juga tinggi, diversifikasi pada aset ekuitas akan mempengaruhi keseluruhan portofolio investasi, terutama saat terjadi penguatan di pasar saham. Cocok bagi investor yang ingin hasil memaksimalkan potensi imbal hasil namun belum memiliki pemahaman terhadap pemilihan saham.
Untuk mencoba berinvestasi ke reksa dana, kamu bisa melakukan pembelian melalui OCBC mobile. Di aplikasi tersebut, kamu dapat memilih berbagai jenis Reksa Dana sesuai risk profile dengan nominal yang sangat terjangkau, mulai Rp10 ribu.
Itulah ulasan mengenai 5 instrumen investasi dengan return tinggi. Kamu tertarik yang mana?
Sebelum investasi pastikan kamu mengetahui kondisi kesehatan finansial pribadimu. Dengan begitu, kamu akan tahu seberapa baik finansialmu dan bisa menentukan instrumen investasi apa yang cocok.
Cara mengecek kondisi finansial juga sangat mudah, yaitu melalui Financial Fitness Check Up untuk bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit.
Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa mendiskusikan hasilnya melalui layanan konsultasi 1 on 1 dengan Nyala Trainer. Melalui layanan ini, kamu bisa mengetahui bagaimana strategi yang tepat untuk memperbaiki masalah keuangan kamu.
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang untuk mencapai #FinanciallyFit!
Baca juga: 7 Tips Memilih Obligasi Agar Untung Maksimal, Yuk Coba!