Logo Ruang Menyala
Bg Block
Kembali ke meNYALA resources

Mau Tinggal di Jepang Setelah Pensiun? Siapkan Uang Segini!

Oleh: Ruang Menyala

Last updated: 5 November 2025 | 754 dilihat

Mau Tinggal di Jepang Setelah Pensiun? Siapkan Uang Segini!

Penasaran berapa biaya hidup di Jepang kalau kamu ingin menetap di sana setelah pensiun? Simak rincian pengeluaran bulanan dan cara menyiapkan dananya!

Jepang merupakan salah satu negara favorit bagi Warga Negara Indonesia (WNI) baik untuk belajar, bekerja, maupun berwisata. Tak heran jumlah WNI di sana terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. 

Berdasarkan data terbaru dari Kantor Imigrasi Jepang, per Desember 2024 jumlah WNI di sana mencapai 199.824 orang. Angka ini meningkat lebih dari 15% dalam enam bulan terakhir. 

Selain itu, jumlah WNI tersebut sekitar 5% dari total warga asing dan 0,16% dari total penduduk Jepang. Mayoritas WNI di Jepang bekerja di berbagai sektor, serta ada sekitar 7.000 orang yang menempuh pendidikan di berbagai institusi.

Negeri Sakura ini layak dipertimbangkan untuk hidup, mengingat kualitas hidup di sana yang sangat baik, layanan kesehatan premium dan mudah diakses, infrastruktur dan transportasi yang ramah, hingga budaya yang menenangkan. 

Baca juga: Biaya Hidup di Australia, Berapa Gaji yang Pas Biar Hidup Layak?

Biaya Hidup di Jepang

Hidup di negara manapun menuntut biaya hidup alias living cost. Besarannya akan tergantung seberapa maju negara tersebut, yang akan berdampak pada tingginya biaya tempat tinggal, makan, hingga akses kesehatan. 

Biaya hidup layak di Jepang sendiri tergolong tinggi. Hal ini wajar mengingat negara itu punya banyak kelebihan. Lalu berapa sih gambaran biaya hidup di Jepang? Berikut ulasannya!

1. Biaya Tempat Tinggal

Tempat tinggal menjadi pengeluaran terbesar bagi siapa pun yang menetap di Jepang. Sewa apartemen kecil di kota besar seperti Tokyo atau Osaka bisa mencapai antara ¥70.000 hingga ¥120.000 per bulan atau setara Rp8,1 - 13,8 Juta. 

Harga ini tergantung lokasi, fasilitas, dan kedekatannya dengan fasilitas publik penunjang seperti stasiun. Apartemen di pinggiran kota memang lebih murah, tapi biaya transportasinya bisa meningkat.

2. Biaya Makan

Untuk kebutuhan makan, rata-rata pengeluaran bulanan berkisar antara ¥30.000 hingga ¥50.000 atau sekitar Rp3,45 - 5,75 Juta. Nominal ini sudah mencakup bahan makanan untuk masak di rumah dan sesekali makan di luar. 

Pola makan di Jepang relatif sehat, tapi harga bahan segar seperti ikan dan buah bisa lebih mahal dibanding di Indonesia. Karena itu, banyak warga memilih masak sendiri untuk menekan biaya.

3. Biaya Transportasi

Transportasi umum di Jepang dikenal efisien dan tepat waktu, tapi juga tidak murah. Rata-rata biaya transportasi bulanan berkisar antara ¥10.000 hingga ¥20.000 atau sekitar Rp1,15 - 2,3 Juta. 

Pengeluaran ini bisa lebih hemat bila menggunakan commuter pass yang berlaku untuk rute tertentu. Untuk yang tinggal di area suburban, biaya transportasi biasanya lebih tinggi karena jarak ke pusat kota lebih jauh.

Baca juga: Ikigai: Konsep Jepang untuk Hidup Bahagia dan Terus Berkarya

4. Biaya Kesehatan

Sistem kesehatan di Jepang memiliki standar tinggi dengan biaya yang cukup terjangkau berkat asuransi nasional. Warga yang ikut asuransi kesehatan wajib membayar iuran antara ¥3.000 hingga ¥8.000 per bulan atau sekitar Rp345 - Rp920 Ribu. 

Lansia biasanya membayar premi sedikit lebih tinggi karena frekuensi pemeriksaan dan pengobatan yang meningkat. 

5. Biaya Utilitas

Pengeluaran untuk listrik, air, gas, dan internet rata-rata berkisar antara ¥10.000 hingga ¥20.000 per bulan atau sekitar Rp1,15 - Rp2,3 Juta. 

Penggunaan pemanas ruangan di musim dingin dan pendingin udara di musim panas bisa membuat biaya listrik melonjak. Internet berkecepatan tinggi di Jepang cukup terjangkau, biasanya sudah termasuk dalam paket utilitas apartemen.

6. Biaya Gaya Hidup dan Hiburan

Untuk kebutuhan gaya hidup seperti makan di restoran, menonton film, langganan streaming, atau sekadar bersantai di kafe, biayanya rata-rata antara ¥10.000 hingga ¥30.000 per bulan atau sekitar Rp1,15 - 3,45 Juta. 

Jika ditotal, biaya hidup di Jepang untuk satu orang dewasa berkisar antara ¥130.000 hingga ¥220.000 per bulan atau sekitar Rp15 - Rp25 Juta, tergantung gaya hidup dan lokasi tempat tinggal. 

Baca juga: Ini Kisaran Gaji dan Biaya Hidup di Singapura per Bulan

Menyiapkan Dana untuk Tinggal di Jepang

Pindah dan menetap ke Jepang, apalagi setelah pensiun, merupakan keputusan besar yang harus dipikirkan dan direncanakan sedini mungkin. Apalagi jika melihat biaya hidup di sana yang cukup tinggi.

Berikut ini beberapa strategi finansial yang bisa kamu mulai dari sekarang untuk mewujudkan tujuan tersebut. 

1. Miliki Pendapatan Pasif 

Sebelum pindah dan tinggal di Jepang, punya pendapatan pasif penting banget supaya kamu nggak sepenuhnya bergantung pada gaji di sana, apalagi kalau masih masa adaptasi atau belum kerja tetap. 

Pendapatan pasif bisa datang dari dividen saham, properti sewa, royalti digital, atau usaha yang sudah autopilot. 

Jepang itu negara dengan biaya hidup tinggi, jadi punya aliran uang masuk dari Indonesia bikin mental lebih tenang dan bikin kamu lebih fleksibel dalam menjalani fase awal hidup di sana.

2. Siapkan Tabungan dalam Yen Jepang (JPY)

Menyimpan sebagian dana dalam mata uang yen adalah langkah penting agar kamu tidak terkena risiko nilai tukar yang merugikan saat benar-benar pindah nanti. 

Idealnya, kamu mulai menabung dalam yen sedikit demi sedikit setiap bulan melalui rekening valas atau instrumen deposito JPY di bank yang menyediakan layanan tersebut. 

Strategi ini juga membuatmu lebih siap menghadapi kebutuhan awal di Jepang seperti sewa apartemen hingga biaya hidup bulan pertama tanpa harus menukar uang dalam jumlah besar sekaligus.

3. Lakukan Diversifikasi Investasi

Mempertahankan aset di Indonesia juga penting agar kamu memiliki sumber pendapatan pasif dalam rupiah. Diversifikasi bisa dilakukan lewat properti yang disewakan, reksa dana pendapatan tetap, atau bisnis kecil yang tetap berjalan meskipun kamu sudah pindah. 

Pendapatan dari aset ini bisa digunakan sebagai back-up fund atau tambahan penghasilan di masa tua. Selain menjaga kestabilan finansial, diversifikasi membantu mengurangi risiko kerugian akibat perubahan ekonomi di Jepang.

4. Terapkan Gaya Hidup Minimalis

Jepang dikenal dengan biaya hidup tinggi, terutama di kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Namun di sisi lain, masyarakat Jepang juga dikenal dengan gaya hidup minimalisnya

Oleh karena itu, pastikan kamu mulai membiasakan diri dengan gaya hidup minimalis. Fokuslah pada kualitas, bukan kuantitas. Dengan cara ini, dana pensiun akan lebih tahan lama dan kamu bisa menikmati masa tua tanpa stres soal keuangan.

Itulah ulasan mengenai berapa biaya hidup di Jepang dan strategi keuangan untuk bisa pindah ke sana. Biaya hidup sangat bergantung pada gaya hidup masing-masing individu. Sehingga penting bagi kamu untuk menyesuaikan gaya hidup saat tinggal di Jepang. 

Saat ini, mengecek kesehatan finansial bisa dilakukan dengan mudah melalui  Financial Fitness Check Up yang bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit.

Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa mendaftar untuk mengikuti layanan konsultasi 1 on 1 dengan Nyala Trainer. Di sesi ini, kamu bisa membahas hasilnya dan menyusun strategi keuangan secara cermat untuk bisa mewujudkan tujuan menetap di Jepang.

Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang guna mencapai #FunanciallyFit!

Baca juga: Ini Kisaran Gaji dan Biaya Hidup di Singapura per Bulan


0 Komentar

Max. 0/120 karakter Login Page