Kesehatan mental dan finansial itu saling berkaitan dan mempengaruhi. Karena itu, ada istilah burnout finansial yang bakal berdampak pada kesehatan mental.
Orang yang sehat secara mental, bisa maksimal dalam bekerja mencari uang. Sebaliknya, orang yang finansialnya kurang sehat, kemungkinan besar mentalnya pun tidak stabil.
Menurut survei American Psychological Association, sebanyak 72% responden mengaku stres karena kondisi keuangannya.
Sebanyak 32% responden menganggap uang sebagai sumber utama konflik dalam hidup, serta 29% responden berpandangan bahwa memiliki pekerjaan yang mapan bisa membantu mengurangi tekanan finansial.
Dalam praktiknya, stres keuangan maupun kesehatan mental, tentu harus dijaga dan diperbaiki. Jika tidak, kamu akan masuk dalam kondisi financial anxiety.
Financial anxiety adalah perasaan khawatir terhadap situasi keuangan yang sedang dihadapi. Dalam kondisi ini, kamu akan cemas terhadap penghasilan, keamanan pekerjaan, utang, hingga kemampuan untuk membeli kebutuhan.
Baca juga: Apa Sih yang Dimaksud dengan Merdeka Finansial?
Media Sosial Pengaruhi Kesehatan Mental dan Finansial
Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi kesehatan mental dan finansial, mulai dari penghasilan, kemapanan pekerjaan, kesenjangan dalam pergaulan, hingga media sosial.
Informasi yang beragam dan mengalir deras, pada titik tertentu sangat bisa mempengaruhi mental dan menimbulkan stres. Kondisi ini bisa diperparah dengan ketidakpastian finansial, sehingga mental semakin terpuruk.
Berikut ini beberapa gambaran yang membuktikan bahwa media sosial mempengaruhi kesehatan mental dan finansial.
1. Perbandingan Sosial
Di media sosial, orang cenderung hanya membagikan sisi terbaik hidupnya, seperti foto liburan, barang-barang mahal, dan gaya hidup yang terlihat sempurna.
Melihat hal ini berulang-ulang membuatmu tanpa sadar membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih “sukses.” Akibatnya, muncul perasaan minder, cemas, bahkan stres karena merasa hidupnya tertinggal jauh.
Tidak hanya itu, perbandingan sosial ini juga bisa mendorong seseorang untuk mengeluarkan uang secara impulsif demi “menyamai” standar orang lain.
2. Mendorong Gaya Hidup Konsumtif
Banyak konten media sosial sengaja dirancang untuk mendorong konsumsi. Misalnya, iklan personalisasi, influencer yang merekomendasikan produk, atau tren belanja dadakan seperti flash sale.
Paparan terus-menerus terhadap konten seperti ini bisa menurunkan kontrol diri dan mendorong belanja konsumtif. Akibatnya, keuangan jadi berantakan, tabungan menipis, bahkan bisa berujung pada utang konsumtif.
Dalam jangka panjang, stres keuangan seperti ini bisa memperburuk kesehatan mental, menambah kecemasan, atau membuat seseorang merasa terjebak dalam siklus utang-belanja.
3. Ketergantungan Emosional
Media sosial dirancang agar orang terus-menerus ingin membuka dan menggunakannya. Notifikasi, like, dan komentar memberikan kepuasan instan yang membuat otak kecanduan.
Padahal, terlalu banyak waktu yang dihabiskan di media sosial bisa mengurangi produktivitas dan mengalihkan fokus dari hal-hal yang lebih penting, seperti bekerja, belajar, atau mengelola keuangan dengan baik.
Ketika terlalu banyak menghabiskan waktu scrolling media sosial, kamu bisa saja melewatkan kesempatan untuk merencanakan keuangan atau mencari peluang penghasilan tambahan.
Selain itu, efek psikologis dari overthinking akibat komentar negatif atau FOMO (takut ketinggalan tren) juga memperburuk kesehatan mental.
Baca juga: 12+ Cara Investasi Saham Untuk Pemula, Ini Langkah Mudahnya!
Menjaga Kesehatan Mental dan Finansial
Mengingat pengaruhnya yang besar, paparan media sosial tentu harus dikurangi agar mental dan finansial tetap sehat. Berikut beberapa cara yang bisa kamu terapkan!
1. Batasi Waktu dan Konten
Salah satu cara paling efektif menjaga mental tetap sehat adalah membatasi waktu bermain media sosial. Kamu bisa memanfaatkan fitur screen time atau digital wellbeing untuk mengontrol durasi harian.
Selain itu, atur juga pola konsumsi kontenmu. Pilih akun-akun yang memberikan dampak positif seperti edukasi finansial, motivasi hidup sehat, atau inspirasi karir, daripada sekadar konten flexing gaya hidup yang membuatmu merasa tertinggal.
2. Terapkan Delayed Gratification
Ketika terpapar konten promo dan kamu tertarik, tak ada salahnya menunda check out untuk beberapa saat. Metode ini dikenal dengan sebutan delayed gratification, yaitu menunda kepuasan sesaat untuk dapat kepuasan yang lebih besar di masa depan.
Biasanya, delayed gratification itu dilakukan selama 1-3 hari. Dalam waktu tersebut, pikirkan apakah barang yang akan dibeli itu kebutuhan atau keinginan belaka. Jika sudah 3 hari dan dirasa barang itu penting, kamu bisa membelinya.
Namun jika dirasa barang itu belum terlalu penting, kamu bisa menunda atau membatalkan pembelian. Uangnya bisa dialokasikan untuk keperluan lain, atau ditabung untuk mewujudkan tujuan finansial di masa depan.
3. Cari Kegiatan Offline Berkualitas
Untuk menjaga keseimbangan mental, penting banget menyisihkan waktu untuk aktivitas offline yang nggak ada hubungannya sama media sosial, misalnya olahraga, baca buku, atau sekadar jalan-jalan santai.
Aktivitas-aktivitas ini bisa membantu mengurangi stres digital dan mengembalikan fokus ke hal-hal nyata yang bisa kamu kontrol.
Secara finansial, kegiatan seperti membaca buku keuangan atau berdiskusi soal investasi juga bisa menambah wawasan dan memperbaiki cara kamu mengelola uang.
Di antara aktivitas yang bisa kamu lakukan adalah mengikuti kelas-kelas finansial dari Ruang meNYALA.
Salah satunya kelas yang mengupas tentang kesehatan mental dan finansial di era digital bertajuk “Beyond The Scroll: Kesehatan Mental & Finansial di Era Digital - ALMA”, yang berlangsung pada Kamis, 24 Juli 2025 pukul 18.30-20.00 WIB.
Kelas ini dipandu oleh Ellyana Mae selaku Editor in Chief Fimela.com dan Widya Yuliarti, Nyala Trainer. Kelas berlangsung hybrid, yaitu Online via Zoom Ruang Menyala dan Offline AMA Malang & ALMA.
Setelah ikut kelas, kamu bisa cek kesehatan finansial untuk mengukur seberapa siap keuanganmu untuk liburan. Caranya dengan ikut Financial Fitness Check Up dari Ruang meNYALA.
Melalui FFCU, kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan pertama kali supaya keuangan kamu lebih sehat dan membuatmu bahagia.
Setelah melakukan Financial Fitness check up, kamu juga bisa langsung konsultasi hasil Financial Fitness Check Up dengan Nyala Trainer loh!
Dengan Nyala Trainer yang sudah berpengalaman, kamu akan mendapatkan sesi konsultasi 1 on 1 untuk membantu dalam menganalisa kesehatan keuangan. Caranya pun mudah, kamu hanya perlu menentukan jadwal yang diinginkan, lalu pilih Nyala Trainer. Tunggu saja hari konsultasinya tiba.
Baca juga: Perjalanan Hidup Lo Kheng Hong hingga Jadi 'Warren Buffetnya' Indonesia