Berbakti kepada orang tua itu merupakan keharusan. Hal ini diatur dalam ajaran agama maupun ketentuan hukum positif di Indonesia. Namun, bentuk bakti ini sesuatu yang luas, meliputi memberi uang, merawat, menyenangkan, dan seterusnya.
Luasnya definisi bakti membuat adanya anggapan di masyarakat bahwa anak adalah investasi orang tua di masa senja. Artinya, ketika orang tua sudah pensiun dan tidak punya penghasilan, maka anak-anaknya wajib memberi nafkah.
Lalu apakah anggapan semacam itu benar atau ada ketentuannya menurut hukum? Simak uraian di bawah!
Baca juga: Pengaruh Kondisi Finansial Terhadap Kesehatan Mental Kamu
Anak Wajib Beri Uang kepada Orang Tua?
Memberi uang itu ada dua perspektif, pertama memberi uang saja secara tidak rutin, kedua memberi uang secara rutin dalam artian nafkah. Sebagai informasi, nafkah sendiri adalah uang atau harta yang untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Jika memberi uang dalam perspektif pertama, tentu anak punya tanggung jawab moral untuk itu. Namun jika menggunakan perspektif kedua, ada perangkat hukum yang mengaturnya.
Anggapan bahwa anak wajib menafkahi orang tua itu muncul begitu saja dan menjadi ingatan kolektif masyarakat. Hal ini terjadi ketika anak sudah dewasa dan berpenghasilan, sementara orang tua sudah pensiun, tidak berpenghasilan, dan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Adapun pengertian dewasa didefinisikan dalam dua kerangka hukum, yaitu UU Perkawinan dan KUH Perdata. Dalam UU Perkawinan, dewasa terjadi ketika anak sudah 18 tahun atau sudah pernah melangsungkan pernikahan.
Adapun menurut KUH Perdata, dewasa adalah anak yang sudah mencapai usia 21 tahun atau sudah melangsungkan pernikahan sebelumnya.
Bagi anak yang sudah dewasa ini, maka mereka punya kewajiban untuk berbuat baik dan berbakti kepada orang tua. Menurut Pasal 46 UU Perkawinan, disebutkan 2 kewajiban anak, yaitu:
- Anak wajib menghormati orang tua dan menaati kehendak mereka yang baik.
- Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas, bila mereka itu memerlukan bantuannya.
Hanya saja, melansir Hukum Online, pasal tersebut nggak menjelaskan tentang sejauh mana ukuran kedewasaan anak, bagaimana bentuk pemeliharaan orang tua yang wajib dilakukan anak, dan apa sanksi atau akibat hukum jika melanggarnya.
Namun merujuk pada UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, ada penjelasan lebih tegas mengenai kewajiban anak dewasa kepada orang tua.
Dalam Pasal 9 ayat (1) UU PKDRT itu disebutkan bahwa setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.
Adapun lingkup rumah tangga meliputi:
- suami, istri, dan anak;
- orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga;
- orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.
Maka merujuk pada UU PKDRT tersebut, orang tua yang tinggal bersama anak termasuk dalam lingkup rumah tangga yang tidak boleh ditelantarkan, alias harus diberi nafkah.
Baca juga: Ini Efek Dan Tips Menjaga Kesehatan Mental Generasi Sandwich
Tips Keuangan Keluarga saat Harus Menafkahi Orang Tua
Bagaimana, kamu harus menafkahi orang tua? Jika kondisinya begitu, maka kamu harus menerapkan manajemen keuangan yang ketat. Tujuannya agar baktimu ke orang tua tetap berjalan, tanpa harus mengorbankan tujuan keuangan keluarga.
Berikut ini beberapa tips keuangan keluarga jika kamu harus menafkahi orang tuamu.
1. Buat Anggaran yang Realistis
Sisihkan dana khusus untuk orang tua dalam anggaran bulanan, tapi pastikan proporsinya masuk akal. Misalnya, alokasikan 5–10% dari pendapatan keluarga.
Dalam hal ini kamu harus terbuka dengan pasangan. Libatkan mereka dalam diskusi agar semua kebutuhan rumah tangga tetap terakomodasi dan tidak ada yang merasa terbebani.
2. Prioritaskan Kebutuhan
Pastikan bantuan finansial yang diberikan kepada orang tua difokuskan pada kebutuhan pokok dan bukan keinginan saja. Kebutuhan pokok misalnya makan, kesehatan, dan tempat tinggal.
Jika memungkinkan, ajak orang tua berdiskusi soal pengeluaran agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan tidak boros.
3. Libatkan Saudara Kandung
Jika kamu punya saudara, ajak mereka ikut bertanggung jawab secara adil. Dengan berbagi peran dan kontribusi, kamu tidak akan menanggung semuanya sendirian.
Selain itu, kamu bisa fokus tetap mengejar tujuan keuangan keluarga seperti dana pendidikan anak atau tabungan rumah.
4. Siapkan Dana Pensiun dan Asuransi Kesehatan Orang Tua
Jika kondisi keuangan memungkinkan, bantu orang tua memiliki asuransi kesehatan dan tabungan hari tua.
Hal ini bisa jadi solusi jangka panjang agar kamu tidak terus-menerus keluar uang mendadak karena sakit atau kebutuhan mendesak lainnya.
Manajemen keuangan keluarga yang baik menjadi kunci kesehatan finansial ketika harus menanggung kebutuhan orang tua. Penasaran seberapa sehat finansialmu saat ini? Caranya sangat mudah, kamu bisa klik tautan ini.
Dengan melakukan financial fitness check up, kamu akan tahu bagaimana kondisi kesehatan finansialmu dan bisa menentukan akan membuka usaha apa.
Financial Fitness Check Up bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit. Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa membahas hasilnya dengan Nyala Trainer di Konsultasi 1 on 1.
Segera daftar Konsultasi 1 on 1 dan kamu bisa mengetahui strategi yang tepat untuk keuangan kamu. Termasuk usaha apa yang cocok dengan profil dan juga kondisi finansial kamu! Banyak banget kan manfaatnya?
Baca juga: 5 Cara Mengembangkan Upaya Berpikir Inovatif dalam Berwirausaha