Logo Ruang Menyala
Bg Block
Kembali ke meNYALA resources

7 Kesalahan Fatal saat Mengelola Uang Hibah

Oleh: Ruang Menyala

Last updated: 22 Agustus 2025 | 347 dilihat

7 Kesalahan Fatal saat Mengelola Uang Hibah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hibah adalah pemberian yang dilakukan secara sukarela dengan mengalihkan hak atas sesuatu kepada orang lain.

Pemberian hibah dilakukan saat pemberi masih dalam keadaan hidup tanpa mengharapkan imbalan apapun. Di sini letak perbedaan antara hibah dengan waris, dimana pembagian waris diberikan saat pemberi sudah meninggal dunia. 

Hibah bisa berupa uang tunai maupun aset. Menurut KUH Perdata Pasal 1682, hibah dianggap sah dan diakui secara hukum apabila dilakukan dengan akta notaris dan naskah aslinya harus disimpan oleh notaris.

Namun demikian, hibah tetap sah tanpa notaris jika berupa barang bergerak yang berwujud atau surat piutang. 

Berbeda dengan harta warisan yang bukan objek pajak, harta hibah dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) dengan tarif 2,5% yang dibayar oleh pemberi hibah. 

Sedangkan penerima hibah, khususnya rumah, tanah atau properti, dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang perhitungannya menggunakan rumus sebagai berikut: 50% x 50% x (NPOP – NPOPTKP).

Baca juga: Mendadak Dapat Warisan, Gimana Cara Aturnya Biar Nggak Habis Sia-sia?

Kesalahan Kelola Uang Hibah

Uang hibah yang diterima itu harus dikelola dengan baik, agar dapat menambah aset dan kekayaan, untuk masa depan yang lebih baik. Sayangnya, masih banyak orang yang salah sehingga uang hibah habis dihambur-hamburkan. 

Berikut beberapa kesalahan yang perlu kamu hindari!

1. Tidak Punya Rencana Penggunaan 

Banyak orang langsung membelanjakan hibah tanpa rencana detail. Padahal, rencana itu ibarat peta yang mengarahkan kemana dana akan dialokasikan. 

Tanpa ini, pengeluaran jadi impulsif dan berujung pemborosan. Misalnya, hibah usaha digunakan untuk beli perlengkapan mahal yang sebenarnya belum dibutuhkan.

2. Uang Hibah untuk Konsumsi

Karena tidak perlu mengembalikan, hibah dianggap sebagai bonus untuk foya-foya. Padahal, pemberi hibah biasanya punya tujuan spesifik, misalnya pengembangan usaha, riset, atau proyek sosial. 

Jika uang hibah malah dipakai untuk hal di luar tujuan, dampaknya bukan cuma uang habis, tapi reputasi penerima juga rusak dan bisa blacklist untuk hibah berikutnya.

3. Rekening Pribadi dan Hibah Dicampur

Mencampur uang hibah dengan uang pribadi bikin pengeluaran sulit dilacak. Akhirnya kamu tidak tahu persis berapa yang sudah terpakai dan untuk apa saja. 

Padahal, kalau ada audit, bercampurnya kedua uang ini bisa jadi masalah serius. Rekening terpisah membuat pencatatan lebih rapi dan transparan.

4. Tidak Buat Laporan dan Bukti Penggunaan 

Hibah mewajibkan penerima untuk membuat laporan pertanggungjawaban. Jika dokumen ini tidak lengkap, bisa menimbulkan masalah hukum atau administratif. 

Lebih buruk lagi, kelalaian dalam membuat laporan dan bukti penggunaan bisa menghambat pencairan tahap berikutnya kalau hibah diberikan bertahap.

Baca juga: Mengenal 5 Jenis Laporan Keuangan untuk Perusahaan

5. Tidak Menyisihkan Dana untuk Keberlanjutan Proyek

Kesalahan ini sering terjadi pada hibah untuk proyek sosial atau usaha. Semua dana dihabiskan untuk kegiatan awal, tapi tidak ada strategi untuk mempertahankan operasional setelah dana habis. 

6. Mengabaikan Risiko dan Biaya Tak Terduga

Banyak penerima hibah hanya fokus pada pengeluaran utama, tapi lupa menyisihkan dana cadangan. Misalnya, hibah penelitian digunakan seluruhnya untuk beli alat, tapi tidak ada dana untuk perawatan, bahan habis pakai, atau upgrade sistem.

7. Terjebak dalam Mentalitas “Asal Cepat Keluar”

Kadang penerima hibah takut kalau dana tidak dipakai, dianggap tidak serius. Akhirnya, uang dihabiskan secepat mungkin tanpa pertimbangan manfaat jangka panjang. 

Padahal, meluangkan waktu untuk riset harga, mencari vendor terbaik, atau memvalidasi ide bisa bikin hasilnya jauh lebih optimal.

Pengelolaan uang hibah yang tepat akan menunjang kesehatan finansial, baik pribadi maupun usaha jika itu hibah usaha. Penasaran seberapa sehat finansialmu saat ini? Caranya sangat mudah, kamu bisa klik tautan ini

Dengan melakukan financial fitness check up, kamu akan tahu bagaimana kondisi kesehatan finansialmu dan bisa menentukan akan membuka usaha apa. 

Financial Fitness Check Up bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit. Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa membahas hasilnya dengan Nyala Trainer di Konsultasi 1 on 1.

Segera daftar Konsultasi 1 on 1 dan kamu bisa mengetahui strategi yang tepat untuk keuangan kamu. Termasuk usaha apa yang cocok dengan profil dan juga kondisi finansial kamu! Banyak banget kan manfaatnya?

Baca juga: Cara Melihat Grafik Saham untuk Pemula, Ini Contohnya!


0 Komentar

Max. 0/120 karakter Login Page