Ternyata, sifat risk averse dalam investasi bisa dikenali dari 5 tanda ini. Namun tenang, kamu tetap bisa cuan dengan strategi yang aman dan realistis. Simak penjelasannya sampai akhir!
Dalam dunia investasi, risiko itu nggak selamanya buruk. Bahkan kalau bicara tentang profil risiko, ada orang-orang yang suka dengan risiko tinggi karena keuntungan yang diperoleh juga tinggi. Ini yang disebut dengan high risk high return.
Namun bukan berarti semua investor suka dengan risiko. Ada kelompok yang cenderung mempertahankan nilai aset dengan menghindari risiko dan lebih nyaman dengan aset yang stabil dan rendah risiko. Mereka ini yang disebut dengan risk averse.
Jika didefinisikan, investor risk averse itu adalah investor yang cenderung menghindari risiko tinggi dalam berinvestasi. Mereka akan memilih aset yang stabil dan pasti, meski keuntungan yang diterima bisa jadi tidak besar.
Sebagai ilustrasi, investor risk averse lebih memilih menaruh uangnya di tabungan berjangka atau deposito daripada membeli saham, meskipun ia tahu, saham bisa memberikan keuntungan yang lebih besar dalam waktu singkat.
Baca juga: Tipe Investor Apa Kamu? Kenali Risk Profilemu sebelum Berinvestasi
Tanda-tanda Investor Risk Averse
Karakter investor itu bisa dikenali dari setiap keputusannya dalam berinvestasi. Begitu pula dengan investor risk averse. Berikut beberapa tandanya!
1. Memilih Instrumen Aman meski Return Kecil
Investor risk averse sangat berhati-hati dalam memilih instrumen investasi. Mereka lebih nyaman dengan produk investasi yang sudah terbukti aman dan stabil, meskipun return atau keuntungannya tergolong kecil.
Bagi mereka, keamanan dana pokok jauh lebih penting daripada mengejar return yang besar tapi penuh risiko. Rugi modal, bagi mereka, sangat merugikan dan berusaha semaksimal mungkin menghindarinya.
2. Mengutamakan Stabilitas dan Kepastian
Selain keamanan dana pokok, mereka cenderung menyukai investasi yang memberikan hasil stabil dan terprediksi. Mereka tidak nyaman dengan fluktuasi nilai investasi yang tidak bisa diprediksi.
Karena itu, mereka lebih percaya diri pada instrumen yang menawarkan fixed return atau pendapatan rutin, misalnya obligasi yang membayar kupon secara berkala, atau deposito yang bunganya tetap.
3. Khawatir saat Pasar Bergejolak
Ciri lain yang khas dari risk averse adalah sangat sensitif terhadap gejolak pasar. Ketika nilai investasi turun, mereka bisa panik dan terburu-buru mencairkan dana meskipun sebenarnya kondisi pasar bersifat sementara.
Mereka sulit membedakan fluktuasi jangka pendek dengan tren jangka panjang, sehingga keputusan investasinya sering didasarkan pada rasa takut kehilangan uang (loss aversion).
4. Ikut Rekomendasi yang Aman
Investor dengan profil risk averse tidak berani bereksperimen sendiri atau mencoba investasi yang belum mereka pahami.
Sebaliknya, mereka lebih nyaman mengikuti saran dari penasihat keuangan, bank, atau media keuangan terpercaya yang biasanya merekomendasikan produk-produk aman.
5. Fokus pada Proteksi Aset
Fokus utama risk averse bukan bagaimana aset berkembang pesat, melainkan bagaimana melindungi aset agar tidak berkurang.
Maka dari itu, selain berinvestasi di instrumen aman, mereka juga lebih rajin menyisihkan dana untuk kebutuhan perlindungan seperti asuransi jiwa, kesehatan, bahkan asuransi investasi.
Selain itu mereka juga memprioritaskan dana darurat yang besar sebagai bantalan jika sewaktu-waktu mengalami kesulitan keuangan.
Baca juga: 12+ Cara Investasi Saham Untuk Pemula, Ini Langkah Mudahnya!
Strategi Tetap Cuan Meski Risk Averse
Investor risk averse nyaman dengan aset yang stabil meski return kecil, apa artinya mereka nggak bisa dapat cuan besar? Tenang, risk averse tetap bisa dapat untung besar, meski perlu beberapa strategi berikut ini!
1. Pilih Instrumen Investasi Berisiko Rendah dengan Imbal Hasil Stabil
Investor risk averse sebaiknya memprioritaskan instrumen investasi yang risikonya kecil namun tetap menghasilkan cuan stabil. Contohnya obligasi pemerintah, reksa dana pasar uang, deposito, atau Surat Berharga Negara (SBN).
Salah satu yang dapat kamu pertimbangkan sebagai salah satu instrumen investawsi adalah SBR014. Saving Bond Ritel (SBR) adalah salah satu jenis Surat Utang Negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah untuk investasi Warga Negara Indonesia (WNI).
SBR merupakan pilihan investasi yang aman, mudah, terjangkau, dan menguntungkan. Kamu dapat membeli SBR014 melalui OCBC Mobile yang ditawarkan mulai 14 Juli hingga 7 Agustus 2025.
Aset-aset seperti ini cenderung tidak mengalami fluktuasi tajam sehingga cocok untuk investor yang ingin merasa aman namun tetap memperoleh pertumbuhan dana secara bertahap.
2. Diversifikasi Investasi
Meskipun menghindari risiko, investor risk averse tetap perlu menyebar investasi di berbagai instrumen. Diversifikasi bisa dilakukan dengan membagi portofolio ke beberapa jenis aset, misalnya sebagian di pasar uang, sebagian lagi di obligasi, atau properti.
Sehingga, ketika ada instrumen yang nilainya menurun, kerugiannya bisa ditutup oleh performa positif dari instrumen lain. Strategi ini menjaga agar keuntungan tetap stabil dan risiko tetap terkendali, sesuai karakter investor yang hati-hati.
3. Manfaatkan Pendapatan Pasif dari Aset Produktif
Daripada mengejar capital gain yang fluktuatif, investor risk averse bisa fokus pada aset yang menghasilkan pendapatan rutin. Contohnya seperti dividen saham blue chip, sewa properti, atau bunga obligasi.
Aset-aset ini memberikan arus kas masuk secara berkala sehingga investor tetap mendapat cuan tanpa harus aktif memperjualbelikan aset atau menghadapi volatilitas pasar yang tinggi.
Pendekatan seperti ini sesuai dengan gaya investasi konservatif yang lebih mengutamakan keamanan dan kenyamanan mental. Dengan begitu, investor risk averse bisa fokus memperbaiki kesehatan finansial.
Namun sebelum investasi pastikan kamu mengetahui kondisi kesehatan finansial pribadimu. Dengan begitu, kamu akan tahu seberapa baik finansialmu dan bisa menentukan instrumen investasi apa yang cocok.
Cara mengecek kondisi finansial juga sangat mudah, yaitu melalui Financial Fitness Check Up untuk bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit.
Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa mendiskusikan hasilnya melalui layanan konsultasi 1 on 1 dengan Nyala Trainer. Melalui layanan ini, kamu bisa mengetahui bagaimana strategi yang tepat untuk memperbaiki masalah keuangan kamu.
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang untuk mencapai #FinanciallyFit!
Baca juga: 7 Tips Memilih Obligasi Agar Untung Maksimal, Yuk Coba!