Logo Ruang Menyala
Bg Block
Kembali ke meNYALA resources

Stabil Dulu, Nikah Belakangan: Realita Finansial Generasi Muda?

Oleh: Ruang Menyala

Last updated: 24 Januari 2026 | 4K dilihat

Stabil Dulu, Nikah Belakangan: Realita Finansial Generasi Muda?

Mengapa generasi muda lebih memilih mapan secara finansial sebelum menikah? Simak realita tantangan ekonomi, gaya hidup, dan tips persiapkan dana nikah di sini!

Finansial merupakan faktor paling penting dalam pelaksanaan pernikahan.  Keuangan yang sehat bukan sekadar mampu menggelar pesta pernikahan, tetapi juga jadi indikator kesiapan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Kondisi finansial ini juga yang menjadi sebab usia seseorang menikah semakin ‘lama’. Jaman dulu, perempuan bisa menikah di usia belasan, sementara laki-laki umur 25 tahun sudah banyak yang menikah. 

Sementara sekarang, berdasarkan data BPS yang disadur dari kompas.id, rata-rata laki-laki di Jakarta cenderung menikah pada usia 30–31 tahun, sedangkan perempuan menikah pada rentang usia 27–28 tahun.

Melansir sumber yang sama, Dita (29 tahun) mengaku pernikahan tetap menjadi bagian dari rencana hidupnya. Namun, keputusan menikah tak bisa diambil semata karena tekanan sosial.

”Aku bukannya takut menikah. Aku hanya enggak mau menikah karena merasa harus atau karena orang lain sudah duluan. Aku ingin ketika menikah, aku dan pasangan sama-sama siap,” ujarnya, Senin (4/8/2025).

Bekerja sebagai analis keuangan di perusahaan swasta, ia sudah stabil secara finansial, dengan penghasilan bulanan di atas Rp 15 juta. Namun, bagi Dita, menikah bukan sekadar soal kemampuan ekonomi.

Baca juga: Bijakkah Berutang Untuk Membayar Biaya Sekolah?

Tantangan Ekonomi dan Gaya Hidup

Selain karena penghasilan yang kenaikannya tidak signifikan, generasi muda juga harus menghadapi tantangan ekonomi dan gaya hidup saat akan merencanakan pernikahan. 

Berikut ini beberapa alasan yang membuat generasi muda menunda menikah!

1. Kondisi Finansial Belum Stabil

Generasi muda merasa belum siap menikah karena kondisi keuangan yang masih fluktuatif. Biaya hidup yang terus meningkat, harga rumah yang mahal, serta kebutuhan setelah menikah membuat stabilitas finansial menjadi prioritas utama. 

Pernikahan dipandang sebagai komitmen jangka panjang yang membutuhkan kesiapan ekonomi agar tidak memicu konflik di kemudian hari.

2. Masih Merintis Karier

Dunia kerja yang semakin kompetitif membuat banyak anak muda masih fokus membangun karier. 

Menikah di fase ini mereka anggap berisiko menambah beban, terutama ketika arah karier belum sepenuhnya jelas.

3. Gaya Hidup Tinggi

Gaya hidup menjadi salah satu alasan generasi muda menunda pernikahan. Pola hidup urban yang lekat dengan nongkrong, traveling, hiburan, membuat pengeluaran rutin cenderung tinggi. 

Banyak anak muda terbiasa memenuhi standar gaya hidup tertentu sebagai bagian dari identitas sosial. Ketika gaya hidup ini sudah terbentuk, pernikahan dipersepsikan sebagai perubahan besar yang menuntut penyesuaian finansial dan kompromi.

4. Kesulitan Menabung

Tingginya biaya hidup dan gaya hidup konsumtif membuat generasi muda kesulitan menabung

Penghasilan yang habis untuk kebutuhan harian dan gaya hidup membuat target finansial seperti dana pernikahan, dana darurat, atau tabungan rumah terasa jauh dari jangkauan. 

Kondisi ini memunculkan perasaan belum siap menikah karena tidak memiliki cadangan keuangan yang cukup untuk menghadapi kebutuhan jangka panjang.

5. Utang Konsumtif

Kemudahan akses pinjaman online, paylater, dan kurangnya kontrol diri terhadap penggunaan kartu kredit mendorong meningkatnya utang konsumtif di kalangan generasi muda. 

Utang yang digunakan untuk kebutuhan non-esensial menciptakan beban finansial bulanan yang harus diselesaikan sebelum memikirkan pernikahan. 

Cicilan yang menumpuk membuat arus kas menjadi sempit dan memperkuat anggapan bahwa menikah sebaiknya ditunda sampai kondisi keuangan benar-benar lebih sehat dan terkendali.

Baca juga: Cerita meNYALA: Persiapan Finansial sebelum Menikah

Tips Menyiapkan Dana Menikah

Gimana, apakah kamu dan pasangan sudah mulai ada rencana menikah? Jika sudah, mulailah merencanakan keuangan pernikahan sedini mungkin agar pesta nikah tidak jadi beban finansial. 

Untuk itu, perencanaan yang baik sangat penting. Supaya tujuan keuangan kamu lebih terarah, coba pakai platform yang bisa menghitung kebutuhan rencana keuangan sesuai dengan yang diperlukan. 

Dalam hal ini, kamu bisa memanfaatkan fitur Life Goals di OCBC mobile. Dengan fitur ini kamu bisa mengumpulkan dana untuk tujuan keuangan tertentu, salah satunya merencanakan liburan kamu.

Melalui fitur Life Goals, kamu hanya perlu menentukan tujuan finansial, menghitung dana yang dibutuhkan, serta menentukan berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. 

Cara membuat fitur Life Goals juga cukup mudah, yaitu melalui aplikasi OCBC mobile. Setelah memiliki Life Goals, kamu juga bisa memilih produk tabungan atau investasi melalui aplikasi tersebut. 

Jika berencana lamaran dan menikah, ada baiknya kamu mengetahui kondisi kesehatan finansialmu terlebih dulu. 

Dengan begitu, kamu akan tahu seberapa baik finansialmu dan bisa menentukan pernikahan seperti apa yang sesuai. 

Penasaran dengan kondisi kesehatan finansialmu saat ini? Tenang, kamu bisa cek sekarang melalui Financial Fitness Check Up dari Ruang MeNyala. 

FFCU bisa memeriksa keuangan dalam 3 menit saja. Hasil FFCU bisa kamu konsultasikan dengan Nyala Trainer dalam sesi 1 on 1 Consultation. Pada sesi ini, kamu akan dapat strategi keuangan yang tepat untuk mewujudkan pernikahan impian.  

Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuangan bisnismu dengan Ruang MeNyala sekarang guna mencapai #FUNanciallyFIT!

Baca juga: 10 Cara Mengatur Rencana Keuangan Keluarga, Ini Manfaatnya!


0 Komentar

Max. 0/120 karakter Login Page