Summary
Ramainya konser dan pusat perbelanjaan di tengah keluhan biaya hidup tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat yang baik-baik saja. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui doom spending, yaitu perilaku menghabiskan uang demi kesenangan sesaat, financial nihilism, yakni pesimisme terhadap masa depan finansial, serta survivorship bias, yaitu kecenderungan menilai kondisi ekonomi berdasarkan kelompok yang terlihat mampu berbelanja. Artikel ini membahas ketiga fenomena tersebut dan cara menikmati hiburan tanpa mengorbankan kesehatan keuangan.
Di tengah keluhan soal biaya hidup yang semakin berat, dunia hiburan Indonesia justru menunjukkan aktivitas yang cukup ramai. Sepanjang 2026, agenda konser di Tanah Air.
Diisi berbagai nama, mulai dari musisi lokal hingga internasional. Tidak hanya itu saja, festival musik pun banyak diminati. Tidak ketinggalan, konser KPOP pun sudah terjual habis dari awal pembelian tiket.
Fenomena serupa juga terlihat di pusat perbelanjaan. Mal masih menjadi tempat masyarakat berbelanja, menonton bioskop, berkumpul bersama teman atau keluarga, hingga menikmati kegiatan hiburan.
Survei perilaku pengunjung mal yang dilakukan pada akhir 2024 hingga awal 2025 menunjukkan bahwa ajakan teman dan kerabat menjadi faktor yang paling memengaruhi keputusan untuk berkunjung, sebagaimana dinyatakan oleh 73% responden yang diteliti.
Selain itu, 43% responden mempertimbangkan peningkatan kualitas fasilitas mal, sementara 40% tertarik karena adanya acara atau kegiatan komunitas.
Temuan ini memperlihatkan bahwa daya tarik mal tidak terbatas pada aktivitas belanja, tetapi juga pengalaman dan kegiatan yang ditawarkan.
Lantas, apakah ramainya konser dan mal berarti kondisi ekonomi masyarakat sebenarnya baik-baik saja? Belum tentu.
Fenomena ini bisa dijelaskan melalui doom spending, yaitu kecenderungan berbelanja demi kesenangan sesaat di tengah tekanan ekonomi, dan financial nihilism, ketika seseorang merasa masa depan finansial sulit dicapai sehingga memilih menikmati uang saat ini.
Selain itu, ada survivorship bias, yakni kecenderungan menilai kondisi ekonomi berdasarkan orang-orang yang terlihat mampu berbelanja, tanpa melihat mereka yang justru menahan pengeluaran.
Lantas, bagaimana ketiga fenomena psikologis ini menjelaskan perilaku konsumsi masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang terasa sulit?
Baca juga: 7 Kebiasaan Doom Spending Gen Z yang Bikin Tabunganmu Lenyap
Fenomena Doom Spending dan Financial Nihilism
Ramainya konser dan mal di tengah tekanan ekonomi bisa dilihat dari cara sebagian orang merespons ketidakpastian finansial.
Dua fenomena psikologis yang relevan untuk memahami perilaku ini adalah doom spending dan financial nihilism, yang memengaruhi cara seseorang memandang uang, kesenangan, dan masa depan.
1. Doom Spending: Menghabiskan Uang demi Kesenangan Sesaat
Doom spending adalah kecenderungan membelanjakan uang untuk memperoleh kepuasan sesaat atau meredakan stres ketika menghadapi tekanan dan ketidakpastian ekonomi.
Misalnya, seseorang tetap membeli tiket konser mahal atau berbelanja di mal untuk memperbaiki suasana hati, meskipun kondisi keuangannya sedang terbatas.
Kesenangan tersebut terasa langsung, sedangkan manfaat menabung untuk masa depan dianggap kurang bisa dinikmati saat ini.
Jika dilakukan tanpa perencanaan dan pertimbangan kemampuan finansial, perilaku ini dapat membuat pengeluaran membengkak dan mengganggu anggaran kebutuhan utama.
2. Financial Nihilism: Merasa Masa Depan Finansial Sulit Dicapai
Financial nihilism menggambarkan pandangan pesimistis bahwa tujuan finansial jangka panjang, seperti membeli rumah atau mencapai kestabilan ekonomi, terasa semakin sulit diwujudkan.
Ketika biaya hidup meningkat dan harga aset terasa jauh dari kemampuan, sebagian orang bisa merasa bahwa menabung sedikit demi sedikit tidak akan banyak mengubah keadaan.
Pola pikir ini dapat membuat seseorang lebih memilih menikmati uang saat ini daripada berfokus pada tujuan finansial jangka panjang. Dalam konteks hiburan, konser atau belanja bisa dianggap sebagai bentuk kesenangan yang masih dapat dijangkau sekarang.
Namun, tidak semua orang yang mengeluarkan uang untuk hiburan mengalami financial nihilism; keputusan tersebut tetap bergantung pada kondisi dan prioritas masing-masing.
Baca juga: Cara Menghitung Masa Kerja Pensiun PNS, Wajib Tahu!
Tidak Semua Orang Mengalami Krisis yang Sama
Ramainya konser dan mal bisa membuat kondisi ekonomi terlihat baik-baik saja. Namun, kesimpulan tersebut berpotensi dipengaruhi survivorship bias.
Survivorship bias adalah kecenderungan menarik kesimpulan berdasarkan orang atau kelompok yang terlihat, tanpa mempertimbangkan mereka yang tidak tampak dalam pengamatan.
Orang-orang yang mampu membeli tiket konser atau berbelanja di mal memang mudah terlihat, tetapi ada pula masyarakat yang memilih mengurangi pengeluaran hiburan, menunda belanja, atau bahkan tidak memiliki anggaran untuk kegiatan tersebut.
Kondisi finansial setiap orang juga berbeda, tergantung pendapatan, tanggungan, tabungan, dan prioritas pengeluaran.
Oleh karena itu, ramainya konser dan mal tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh masyarakat memiliki daya beli yang kuat.
Fenomena tersebut hanya memperlihatkan aktivitas konsumsi kelompok tertentu, bukan gambaran lengkap kondisi ekonomi semua orang.
Baca juga: Mengenal Metode Zero Based Budgeting yang Bikin Uang Lebih Efisien
Hindari Terjebak Belanja Emosional!
Ramainya konser dan mal bisa memunculkan keinginan untuk ikut menikmati tren, apalagi ketika media sosial dipenuhi unggahan orang yang menonton konser atau berbelanja.
Namun, keputusan finansial sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keinginan sesaat atau rasa takut tertinggal dari orang lain. Ada beberapa cara untuk tetap menikmati hiburan tanpa mengabaikan kondisi keuangan.
1. Bedakan Keinginan dan Kebutuhan
Sebelum membeli tiket konser atau berbelanja di mal, luangkan waktu untuk mempertimbangkan alasan di balik keputusan tersebut. Apakah pembelian memang sudah direncanakan atau hanya muncul karena stres, dorongan sesaat, dan keinginan mengikuti tren?
Beri jeda sebelum melakukan pembelian yang tidak mendesak agar kamu bisa menilai kembali apakah pengeluaran tersebut benar-benar diperlukan dan sesuai kemampuan.
2. Tetapkan Batas Anggaran Hiburan
Menikmati konser atau berkunjung ke mal tetap bisa menjadi bagian dari perencanaan keuangan, selama anggarannya jelas. Sisihkan dana hiburan setelah kebutuhan pokok, tagihan, dan kewajiban menabung terpenuhi.
Perhitungkan juga biaya tambahan, seperti transportasi, makanan, dan belanja selama acara. Hindari menggunakan dana darurat atau berutang hanya demi mengikuti kegiatan yang sedang populer.
3. Jangan Membandingkan Kondisi Finansial dengan Orang Lain
Unggahan media sosial hanya memperlihatkan sebagian kehidupan seseorang, bukan keseluruhan kondisi keuangannya. Orang yang terlihat rutin menonton konser atau berbelanja belum tentu memiliki situasi finansial yang sama denganmu.
Daripada mengikuti gaya hidup orang lain, tentukan prioritas berdasarkan pendapatan, tanggungan, dan tujuan keuangan sendiri. Kamu tetap bisa menikmati hiburan dengan memilih kegiatan yang sesuai anggaran tanpa harus merasa tertinggal.
Baca juga: Cara Memisahkan Kebutuhan vs Keinginan dengan Teknik ‘3 Hari’
Atur Keuangan untuk hidup Lebih Seimbang
Keinginan menikmati hiburan di tengah tekanan ekonomi perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang baik.
Fenomena doom spending menunjukkan bahwa keputusan belanja yang didorong emosi dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dan tujuan finansial jangka panjang.
Oleh karena itu, penting untuk memahami batas kemampuan diri dan tidak menjadikan gaya hidup orang lain sebagai tolok ukur dalam menggunakan uang.
Pada dasarnya, mengatur keuangan bukan berarti harus menghilangkan semua keinginan, tetapi memastikan setiap keputusan tetap sejalan dengan kemampuan dan prioritas.
Untuk membantu menjalani hidup yang lebih seimbang, kamu bisa mengenal Layanan Nyala by OCBC. Layanan ini memberikan manfaat terbaik berdasarkan total saldo gabungan rata-rata dari berbagai produk yang kamu miliki di OCBC.
Artinya, kamu bisa mendapatkan manfaat dari setiap produk OCBC yang kamu miliki, mulai dari tabungan, deposito, rekening giro, tabungan berjangka, hingga produk investasi.
Benefit yang dapat kamu manfaatkan meliputi bebas biaya transfer hingga 180x per bulan, top up dan tarik tunai hingga 60x per bulan.
Selain itu, kamu juga punya akses untuk memeriksa kesehatan keuangan sebelum memutuskan untuk ngonser atau ngemall setiap minggu dengan mengikuti Financial Fitness Check Up dari Ruang MeNyala.
Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa mendiskusikan hasilnya melalui layanan 1 on 1 Consultation dengan Nyala Trainer. Melalui layanan ini, kamu bisa mengetahui bagaimana strategi yang tepat untuk tetap memenuhi keinginan di tengah situasi ekonomi yang tidak pasti.
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang MeNyala sekarang guna mencapai #FUNanciallyfit!
Baca juga: Bedakan Dulu: Asuransi dan Investasi Punya Tujuan Berbeda