Mau nabung atau investasi dari bonus kerja? Cari tahu pembagian ideal dari bonus untuk dipakai, ditabung, atau diinvestasikan!
Bonus adalah kompensasi ekstra yang diberikan kepada karyawan, di luar gaji rutin, sebagai penghargaan atas kinerja yang baik. Memang bonus bukan termasuk pembayaran wajib, tetapi bisa menjadi bagian dari kebijakan perusahaan dan tertuang dalam perjanjian kontrak kerja.
Ada beberapa jenis bonus dari kantor yang bisa kamu terima. Pertama bonus tahunan atau annual bonus yang diberikan sekali dalam setahun sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi karyawan selama satu tahun penuh.
Kedua, yaitu bonus kinerja yang diberikan sebagai bentuk penghargaan langsung atas pencapaian kinerja individu, tim, atau departemen. Targetnya berupa penjualan, efisiensi kerja, keberhasilan menyelesaikan tugas tertentu, dan sebagainya.
Lalu ada pula bonus berupa profit sharing, yaitu bentuk bonus yang didasarkan pada keuntungan perusahaan secara keseluruhan. Bonus ini diberikan ketika perusahaan dapat laba besar.
Baca juga: THR/Bonus, Benarkah Rejeki Nomplok?
Berapa Persen Bonus Ditabung/Investasi?
Bonus yang kamu dapat tentu menjadi tambahan penghasilan diluar pendapatan rutin melalui gaji. Artinya, bonus tersebut adalah ‘uang bebas’, yang jika dipakai atau ditabung semua pun idealnya tidak mengganggu operasional.
Namun jika kamu berorientasi kepada kesehatan finansial jangka panjang, menabung dan berinvestasi dari bonus tentu jadi pilihan tepat. Lalu pertanyaannya, berapa persen dari bonus yang ideal buat ditabung/investasi?
Sebenarnya tidak ada angka baku dalam hal ini, tetapi ada panduan umum yang bisa membantu menentukan berapa persen bonus yang ideal untuk ditabung dan diinvestasikan.
Bonus sifatnya windfall atau datang di luar pendapatan rutin, sehingga jadi momen paling tepat buat mempercepat tujuan finansial tanpa mengganggu kebutuhan bulanan.
Umumnya, porsi yang sehat adalah 50–80% dari bonus dialokasikan untuk tabungan dan investasi. Namun angka ini kembali ke kondisi finansial masing-masing. Semakin stabil keuangan kamu, semakin besar porsi bonus yang bisa langsung disimpan.
Jika kamu belum punya dana darurat, porsi tabungan perlu diperbesar terlebih dulu. Sebaliknya, kalau dana darurat sudah aman dan tidak ada utang konsumtif, porsi ke investasi bisa ditingkatkan agar pertumbuhan aset lebih optimal.
Sementara sisanya, sekitar 20–50%, bisa dipakai untuk kebutuhan pribadi, liburan, perawatan diri, atau membeli hal-hal yang memang sudah direncanakan.
Baca juga: 10 Pos Keuangan Rumah Tangga, Pasangan Muda Wajib Tahu!
Strategi Menabung/Investasi dari Bonus
Menabung atau investasi dari uang bonus itu perlu strategi agar keputusan yang kamu ambil sejalan dengan profil dan tujuan keuanganmu. Berikut beberapa strategi yang bisa kamu terapkan.
1. Prioritaskan Penguatan Dana Darurat
Bonus kerja cocok untuk mempercepat terbentuknya dana darurat tanpa harus mengganggu arus kas bulanan. Strateginya adalah langsung mengalokasikan sebagian bonus, misalnya 30–50%, ke rekening khusus dana darurat.
Dengan cara ini, cadangan finansial dapat mencapai target lebih cepat dan memberi perlindungan jika terjadi kondisi seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis mendadak, atau kebutuhan tak terduga lainnya.
2. Fokus Investasi Jangka Menengah dan Panjang
Jika dana darurat sudah aman, bonus bisa dialokasikan ke instrumen investasi yang sesuai tujuan, seperti reksa dana, obligasi negara, atau deposito.
Fokusnya bukan sekadar menaruh uang, tetapi menempatkannya di instrumen yang memberi potensi imbal hasil lebih tinggi daripada tabungan biasa.
Dengan konsisten, bonus bisa menjadi dorongan besar untuk membangun kekayaan jangka panjang dan mempercepat tercapainya tujuan seperti dana pensiun atau pendidikan anak.
3. Lunasi Utang Berbunga Tinggi
Menggunakan bonus untuk melunasi utang yang berbunga tinggi adalah strategi yang sangat menguntungkan. Semakin cepat utang berbunga tinggi lunas, semakin besar beban bunga yang bisa dihemat.
Arus kas bulanan pun jadi lebih longgar, memungkinkan alokasi ke tabungan dan investasi lebih besar di bulan-bulan berikutnya.
4. Sisakan untuk Kebutuhan Pribadi
Bonus kerja tidak harus seluruhnya disimpan. Menyisihkan sebagian untuk apresiasi diri juga penting. Alokasinya bisa sekitar 10–30%, tergantung kondisi finansial.
Dengan memberikan ruang untuk self reward seperti liburan singkat, upgrade alat kerja, atau perawatan diri, motivasi tetap terjaga tanpa membuat pengelolaan keuangan berantakan.
Menerapkan strategi menabung dan investasi dari bonus kerja di atas akan membuat keuangan pribadi semakin sehat sehingga tujuan keuangan bisa lebih cepat terwujud.
Bicara soal kesehatan finansial, seberapa sehat sih finansialmu saat ini? Kamu bisa cek dengan mengikuti Financial Fitness Check Up dari Ruang meNYALA.
FFCU bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit. Hasilnya bisa langsung kamu bahas dengan Nyala Trainer di Konsultasi 1 on 1. Kamu akan mendapat insight terkait bagaimana mengelola uang bonus kerja yang sesuai dengan profil dan tujuan keuanganmu.
Banyak sekali manfaat yang bisa kamu dapat, bukan? Jadi, yuk segera atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang agar kamu bisa segera #FunanciallyFit!
Baca juga: Menabung Bareng Pacar, Boleh Nggak Sih?