Mobil baru bisa jadi jebakan kalau belum siap. Kenali 6 tanda finansial yang wajib kamu pahami sebelum beli mobil baru impianmu itu!
Beli mobil itu bukan hanya soal uang seharga mobil yang harus disiapkan, tetapi biaya-biaya lain yang menyertainya juga perlu dipikirkan. Pasalnya, punya mobil akan membuat operasional harianmu bertambah.
Sebagai contoh, kamu mungkin hanya perlu keluar uang Rp100 Ribu per minggu saat masih naik motor untuk mobilitas. Angka itu akan sangat kurang jika kamu beralih ke mobil.
Pasalnya, biaya menggunakan mobil jauh lebih tinggi, mulai dari harga bahan bakar, biaya parkir, biaya tol, hingga biaya-biaya lain seperti perawatan dan pajak kendaraan yang jumlahnya berkali lipat dari motor.
Di sinilah pentingnya pertimbangan keuangan sebelum membeli mobil. Jangan sampai kamu hanya mempertimbangkan harga mobil saja, tanpa memikirkan biaya operasional saat memiliki mobil.
Apalagi jika beli mobil secara kredit. Bisa saja kamu hanya tergiur uang muka yang ringan, padahal cicilannya cukup menguras penghasilan dalam waktu yang panjang!
Baca juga: 6 Tips Membeli Mobil Bekas Agar Kamu Tidak Menyesal
Tanda Belum Siap Punya Mobil
Punya mobil perlu biaya yang besar. Oleh karena itu, tidak semua orang siap dan mampu untuk punya mobil. Berikut ini beberapa ciri orang yang belum siap secara keuangan untuk punya mobil baru.
1. Biaya Hidup Harian Masih Terasa Berat
Jika kamu masih kesulitan menyeimbangkan pemasukan dengan pengeluaran sehari-hari, sebaiknya berhenti dulu dari niat beli mobil baru. Kebutuhan dasar saja sudah bikin dompet tipis, maka menambah beban dengan punya mobil akan membuat keuangan semakin tertekan
Mobil itu tidak hanya soal cicilan bulanan, melainkan juga biaya perawatan yang sifatnya rutin dan wajib. Tanpa finansial yang stabil, memiliki mobil malah akan terasa seperti beban, bukan kenyamanan.
2. Cicilan Bulanan Sudah Berat
Banyak orang nekat beli mobil baru padahal cicilan bulanan sudah tinggi. Rasio utang yang sehat seharusnya maksimal 30% dari penghasilan, tapi realitanya banyak yang lewat batas itu karena ada cicilan rumah, kartu kredit, atau pinjaman konsumtif lainnya.
Begitu memaksa tambah cicilan mobil, kondisi keuangan bisa makin sesak napas. Alhasil, gaji yang diterima tiap bulan langsung ludes hanya untuk bayar kewajiban tanpa sisa untuk kebutuhan hidup harian.
Situasi ini bikin keuangan rapuh dan rentan goyah hanya karena satu pengeluaran tak terduga saja.
3. Nggak Punya Dana Darurat
Keputusan membeli mobil seharusnya datang setelah fondasi keuangan terbentuk, salah satunya adalah punya dana darurat.
Tanpa dana darurat ini, hidup bisa berantakan saat ada kejadian yang tidak bisa diprediksi, misalnya sakit, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan keluarga yang tiba-tiba muncul.
Dana darurat idealnya minimal 6x pengeluaran bulanan bagi yang masih single, dan bisa sampai 12x pengeluaran bulanan bagi yang sudah berkeluarga.
Mobil baru memang menyenangkan, tetapi tanpa adanya "safety net" finansial, keputusan itu bisa berubah jadi beban yang menyulitkan.
4. Nol Tabungan dan Investasi
Penghasilan bulanan seharusnya tidak habis untuk konsumsi. Ada porsi yang sebaiknya rutin dialokasikan untuk tabungan dan investasi, sebagai bekal menghadapi kebutuhan masa depan.
Kamu yang belum mampu menabung secara konsisten atau belum punya portofolio investasi sama sekali sebenarnya sedang berada di tahap membangun fondasi finansial.
Membeli mobil di tahap ini justru mengalihkan dana yang seharusnya bisa berkembang. Mobil memang bisa meningkatkan kenyamanan, tetapi secara nilai akan terus turun, sedangkan tabungan dan investasi justru memberi peluang untuk tumbuh.
Baca juga: 4 Perbedaan Mobil Listrik vs Mobil Bensin, Lebih Hemat Mana?
5. Mengandalkan DP Ringan dan Cicilan Panjang
Tanda berikutnya adalah ketika kamu hanya mengandalkan uang muka (DP) ringan dan cicilan yang panjang. Memang sekilas tampak kecil DP Rp15 Juta, angsuran Rp4 Juta selama 7 tahun, tapi itu akan menggerus sebagian besar penghasilanmu!
Perlu diingat, mobil adalah aset konsumtif yang nilainya terus turun, jadi membeli dengan skema seperti itu justru membuat kerugian finansial lebih besar.
Mobil seharusnya jadi alat mobilitas, bukan jerat utang jangka panjang yang mengikat kehidupan selama bertahun-tahun.
6. Beli Mobil Demi Gengsi
Motivasi membeli mobil seharusnya berangkat dari kebutuhan nyata, misalnya sering bepergian dengan keluarga atau harus mobilitas kerja ke tempat-tempat yang sulit dijangkau transportasi umum.
Namun, banyak orang tergoda membeli mobil hanya karena dorongan gengsi agar terlihat lebih mapan di mata orang lain. Perasaan bangga itu memang ada, tetapi hanya sesaat.
Begitu cicilan bulanan mulai menekan, rasa puas itu akan cepat menghilang, yang tersisa justru stres dan penyesalan. Mobil yang dibeli dengan alasan emosional lebih sering jadi simbol beban finansial ketimbang kebanggaan.
Itulah beberapa tanda kamu masih belum siap punya mobil baru. Pertimbangkan baik-baik sebelum beli mobil, agar keuangan selalu sehat dan stabil, serta mobil nggak jadi jeratan utang jangka panjang.
Oleh karena itu, sebelum beli mobil kamu juga perlu tahu kondisi keuangan dengan mengikuti Financial Fitness Check Up dari Ruang meNyala, yang bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit.
Hasil dari FFCU bisa kamu diskusikan bersama Nyala Trainer dalam layanan konsultasi 1 on 1 dengan Nyala Trainer. Pada sesi ini, kamu bisa membahas posisi keuangan, termasuk apakah kamu sudah siap punya mobil atau tidak.
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang guna mencapai #FinanciallyFit!
Baca juga: 10 Rincian Biaya KPR Penting di Bank dan Cara Menghitungnya