Perempuan berperan penting dalam bisnis berkelanjutan, tapi juga menghadapi tantangan unik dalam kepemimpinan, pendanaan, dan inovasi berkelanjutan. Temukan solusi dan inspirasinya di sini!
Bisnis berkelanjutan adalah model usaha yang dijalankan dengan memperhatikan keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan (ESL). Artinya, bisnis ini nggak cuma berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mikirin dampak sosial dan ekologi.
Oleh karena itu, bisnis berkelanjutan sangat berbeda dengan bisnis konvensional. Khususnya dalam Bisnis berkelanjutan (green business), cara produksi, bahan baku yang dipakai, hingga pengelolaan limbah dilakukan dengan meminimalisir kerusakan terhadap lingkungan.
Baca juga: 12 Ide Usaha Sampingan Karyawan, Untung Meski Minim Modal!
Perempuan dalam Bisnis Berkelanjutan
Meski berorientasi pada masa depan, pada kenyataannya bisnis berkelanjutan masih belum masif di Indonesia. Kajian Bidang Kewirausahaan, Inovasi, dan UMKM FEB UGM bersama Bank Indonesia, mayoritas UMKM di Indonesia belum mengadopsi praktik bisnis ramah lingkungan.
Meski menopang lebih dari separuh perekonomian Indonesia, UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan besar dalam transisi menuju praktik bisnis ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Selain hambatan regulasi, sebagian besar UMKM masih dihadapkan pada persoalan infrastruktur pembiayaan berkelanjutan, biaya investasi tinggi hingga minimnya insentif.
Fakta ini turut menghambat kinerja perempuan dalam industri berkelanjutan. Padahal, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyebutkan bahwa perempuan lebih sadar terhadap dampak lingkungan dalam pemilihan bisnis maupun konsumsi mereka.
OECD merupakan organisasi internasional yang anggotanya mayoritas merupakan negara-negara maju dengan ekonomi kuat. Tujuan utama OECD adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, perdagangan yang adil, stabilitas keuangan, dan peningkatan standar hidup.
Berikut ini beberapa tantangan dan hambatan perempuan dalam pengelolaan bisnis berkelanjutan beserta solusinya!
1. Akses Terbatas terhadap Pendanaan
Perempuan pengusaha kesulitan mendapatkan modal untuk mengembangkan bisnis berkelanjutan. Banyak lembaga keuangan masih menilai bisnis keberlanjutan sebagai usaha berisiko tinggi dengan waktu balik modal yang lebih lama.
Solusinya, pengusaha perempuan bisa mencari alternatif pembiayaan seperti crowdfunding, hibah dari program pemerintah atau lembaga internasional yang mendukung bisnis ramah lingkungan, serta menjalin kolaborasi dengan investor yang memiliki visi keberlanjutan.
2. Kurangnya Dukungan Ekosistem dan Jaringan Bisnis
Minimnya koneksi dengan komunitas atau mentor bisnis membuat perempuan pengusaha bisnis berkelanjutan sulit memperluas pasar dan mengakses informasi penting.
Solusinya, pengusaha perempuan bisa aktif mengikuti forum bisnis berkelanjutan, inkubator startup, atau komunitas wirausaha perempuan. Dengan begitu, peluang kerja sama akan terbuka lebih lebar.
3. Peran Perempuan
Banyak pengusaha perempuan harus membagi waktu antara mengurus rumah tangga dan mengelola bisnis. Kondisi ini bisa membuat mereka kelelahan dan sulit fokus pada pengembangan usaha.
Solusinya, penting untuk membangun sistem dukungan, baik dari keluarga maupun tim kerja. Pembagian tugas yang jelas, penerapan manajemen waktu, serta penggunaan teknologi untuk otomatisasi proses bisnis bisa membantu perempuan menyeimbangkan peran tanpa kehilangan produktivitas.
4. Kurangnya Edukasi dan Pelatihan Teknis
Bisnis berkelanjutan menuntut pemahaman teknis tentang energi terbarukan, daur ulang, hingga manajemen limbah. Banyak perempuan tertarik tapi belum memiliki bekal pengetahuan di bidang ini, sehingga sulit bersaing di pasar.
Solusinya, pengusaha perempuan bisa memanfaatkan pelatihan daring gratis atau program pendampingan dari kementerian, lembaga non-profit, maupun universitas yang fokus pada green business.
Baca juga: Bisnis Franchise: Pengertian, Keuntungan, Jenis, dan Tipsnya
Rahasia Sukses Bisnis Berkelanjutan
Bisnis berkelanjutan harus dikelola dengan baik agar potensi yang besar benar-benar bisa mendatangkan keuntungan. Salah satu rahasianya ada pada pengelolaan uang usaha.
Dalam hal ini, yang paling mendasar adalah memisahkan uang pribadi pengusaha dengan uang usaha.
Cara yang paling mudah adalah dengan memanfaatkan aplikasi keuangan digital yang sangat berguna dalam pencatatan otomatis, alokasi dana berdasarkan kategori, hingga pengingat untuk transfer rutin ke rekening dana darurat.
Kabar baiknya, fungsi-fungsi tersebut bisa kamu dapatkan dengan menggunakan layanan keuangan Nyala Bisnis dari OCBC!
Nyala Bisnis adalah layanan saldo gabungan untuk mengatur keuangan pribadi dan bisnis secara terpadu, dengan tiga keunggulan, yaitu dua rekening terpisah dalam satu layanan, bebas biaya transaksi, dan solusi digital yang bisa dinikmati.
Dalam pengelolaan dana, Nyala Bisnis menawarkan rekening bisnis yaitu Giro Business Smart dan pribadi melalui Tanda 360. Selain itu, kamu bisa memanfaatkan transaksi valas mudah dengan kurs kompetitif via OCBC mobile.
Nyala Bisnis juga menawarkan bebas biaya transaksi, meliputi:
- Bebas biaya transfer antar bank melalui ATM, OCBC Internet Banking, dan OCBC mobile dengan metode online dan SKN/LLG 50x per bulan;
- Bebas biaya administrasi rekening dan biaya di bawah saldo minimum;
- Bebas biaya tarik tunai di ATM Prima, Bersama, dan OCBC Singapore 50x per bulan.
Selain itu, Nyala Bisnis juga menawarkan reward untuk setiap dana masuk hingga Rp25 Ribu sesuai dengan level Nyala Bisnis masing-masing.
Buka Nyala Bisnis melalui OCBC mobile sekarang juga dan dapatkan reward Rp600 Ribuan!
Baca juga: Panduan dan Contoh Cara Menghitung Bagi Hasil Usaha Kuliner