Pinjam uang bisa jadi solusi bagi kamu yang butuh dana cepat untuk mencukupi suatu keperluan. Namun usahakan dana yang dipinjam itu untuk keperluan produktif.
Tujuan kepada siapa meminjam dana seringkali membuat bingung. Dalam hal ini ada beberapa opsi, mulai dari pinjam kepada teman, pinjaman online, atau pinjam dana ke bank.
Setiap sumber pinjaman punya karakter yang berbeda. Misalnya, pinjam teman mungkin cocok jika keperluannya kecil, seperti di bawah Rp5 Juta.
Meski kecil, kamu juga harus memastikan teman yang dipinjami memiliki nominal tersebut. Jika tidak, kamu tentu harus mencari alternatif tujuan lain untuk meminjam dana.
Selain itu, meminjam uang kepada teman juga kurang fleksibel dalam pengembalian dana. Teman akan lebih suka dana yang dipinjam itu dikembalikan secara langsung, tanpa diangsur.
Berikutnya, yang juga perlu diperhatikan, banyak pertemanan yang rusak karena uang dan utang-piutang. Maka kamu harus memastikan dana yang kamu pinjam itu benar-benar kamu kembalikan, agar pertemanan kalian tidak bermasalah.
Sementara itu, jika dana yang diperlukan cukup besar, seperti di atas Rp5 Juta, pinjaman dari bank atau fintech mungkin bisa jadi pilihan yang lebih pas.
Baca juga: Quotes Terbaik tentang Menabung: Bijak Kelola Keuangan
Pinjam KTA Bank vs Pinjol
Produk Kredit Tanpa Agunan (KTA) dari bank dan pinjaman online punya satu kesamaan, yaitu sama-sama produk pinjaman tanpa jaminan aset tertentu. Meski begitu, keduanya punya perbedaan signifikan yang harus dipahami.
Nah berikut ini beberapa perbedaan antara kedua jenis pinjaman tersebut yang perlu kamu pahami!
1. Bunga Pinjol Lebih Tinggi
Pinjaman online mengenakan bunga harian. Mulai 1 Januari 2024, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan batas maksimum bunga pinjaman online (pinjol) tahun 2025 adalah 0,1 persen per hari.
Artinya, dalam sebulan, bunga pinjol dapat mencapai 3%. Namun untuk pinjol ilegal, bunga yang dibebankan hampir pasti lebih besar karena tidak mengikuti aturan OJK.
Sebaliknya, KTA dari bank biasanya memiliki bunga bulanan tetap dan jauh lebih rendah, berkisar antara 0,88%-2% per bulan tergantung bank dan tenor.
2. Biaya Keterlambatan Pinjol Lebih Tinggi
Pinjol menerapkan denda keterlambatan harian yang cukup memberatkan, dan bisa terus menumpuk hingga melampaui nilai pokok pinjaman. OJK menetapkan, untuk pinjaman konsumtif denda keterlambatan harian adalah 0,2% per hari atau 6% per bulan.
Sedangkan untuk pinjaman produktif, denda keterlambatan harian lebih kecil yaitu 0,1% per hari atau 3% per bulan. Namun angka tersebut belum termasuk bunga harian yang terus berjalan.
Sementara KTA juga memiliki penalti keterlambatan, tetapi sistemnya lebih jelas, terukur, dan tidak mencekik. Sebagai contoh KTA Cashloan OCBC menerapkan denda sebesar 5% dari cicilan atau minimum Rp 150 Ribu.
Karena tanpa tambahan bunga harian yang terus berjalan, biaya keterlambatan KTA lebih kecil daripada pinjol.
3. Plafon KTA Lebih Besar
Plafon pinjaman dari KTA bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, tergantung profil peminjam.
Sementara pinjol umumnya hanya memberi pinjaman dalam jumlah kecil, berkisar dari ratusan ribu hingga belasan juta rupiah.
4. Legalitas KTA Lebih Aman
KTA merupakan produk resmi perbankan yang diawasi oleh OJK dan tunduk pada regulasi ketat.
Pinjol legal memang juga diawasi OJK, tapi masih banyak pinjol ilegal yang beroperasi di luar aturan dan kerap menyalahgunakan data pribadi peminjam.
Jika bingung pilih produk yang mana, kamu bisa mencoba produk KTA dari OCBC. Ada beberapa produk yang ditawarkan, mulai dari KTA Cashloan, KTA Cashbiz, dan KTA Cashloan Payroll.
Baca juga: Untung Rugi Floating Rate di KPR dan Bedanya dari Fixed Rate
Pinjaman KTA Harus Dikelola
Pinjam uang dari KTA bank memang mudah. Syaratnya simpel dan pencairan dana cepat. Namun bukan berarti kamu bisa seenaknya.
Kamu tetap harus mengelolanya dengan baik. Tujuannya agar pinjaman terbayar tepat waktu dan keuanganmu tak terganggu.
Berikut adalah beberapa tips mengelola utang yang bisa kamu terapkan.
1. Buat Prioritas Pembayaran
Kalau punya lebih dari satu utang, penting banget buat menyusun skala prioritas. Dahulukan utang dengan bunga tinggi atau tenggat waktu paling dekat.
Dengan mengutamakan pembayaran yang membebani, kamu bisa mengurangi total bunga yang harus dibayar dan mempercepat pelunasan secara keseluruhan.
2. Siapkan Dana Khusus Bayar Utang
Jangan tunggu uang sisa buat bayar utang. Sebaiknya, dari awal kamu sudah menyisihkan persentase tertentu dari penghasilan tiap bulan untuk pos bayar utang.
Misalnya 20-30% dari gaji kamu langsung dialokasikan untuk cicilan. Cara ini membuatmu lebih disiplin dan menghindari telat bayar yang bisa menambah beban denda atau bunga tambahan.
3. Hindari Menambah Utang
Saat kepepet, godaan untuk ambil pinjaman baru sangat besar. Tapi menutup utang dengan utang lainnya bisa bikin kamu masuk lingkaran setan utang.
Lebih baik evaluasi dulu kondisi keuanganmu, cari penghasilan tambahan kalau perlu, dan fokus selesaikan satu utang dulu sebelum berpikir untuk berutang lagi.
Utang harus dikelola secara efektif, karena jika tidak, utang akan mempengaruhi kesehatan finansialmu. Untuk itu, kamu perlu mengecek kesehatan keuangan terlebih dulu sebelum memutuskan untuk utang.
Mengecek kesehatan finansial kini bisa dilakukan dengan mudah melalui Financial Fitness Check Up yang bisa membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit.
Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa mendaftar untuk mengikuti layanan konsultasi 1 on 1 dengan Nyala Trainer. Di sesi ini, kamu bisa membahas hasil Financial Fitness Check Up kamu dan menyusun strategi keuangan secara cermat.
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang guna mencapai #FinanciallyFit!
Baca juga: Mengenal Plafon Utang, Ini Contoh dan Cara Menghitungnya