Fenomena sandwich generation di Indonesia bukan hal baru. Banyak anak usia produktif berada di posisi ‘terjepit, menanggung kebutuhan orang tua sekaligus membiayai keluarga inti.
Akibatnya, kualitas hidup menurun, tabungan terbatas, dan rencana masa depan terhambat. Sehingga muncul anggapan bahwa memutus rantai sandwich generation sangatlah susah.
Hal itu karena para ‘sandwich’ ini tidak mampu mempersiapkan masa tua. Hingga akhirnya ketika mereka memasuki usia pensiun, akan menjadi tanggungan dari anak-anaknya. Sandwich generation pun diwariskan.
Namun kini mulai muncul kesadaran baru bahwa kondisi ini bukan takdir. Ada banyak cara modern yang bisa dilakukan untuk memutus rantai tersebut. Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah dengan perencanaan proteksi lewat asuransi.
Hal itu disampaikan oleh Head of Centre for Excellence Great Eastern Life Indonesia Peter Hermawan saat menjadi salah satu narasumber dalam Financial Fitness Class bertajuk Financial Checkpoint 2025: Reflect, Rebalance, Reinforce yang berlangsung di OCBC Space BSD, Kamis, 28 November 2025.
“Kita bisa memutus mata rantai sandwich generation itu dengan asuransi. Karena asuransi akan memberikan proteksi agar jika terjadi sakit, keuangan tetap aman,” katanya.
Peter mengatakan, memang beban finansial para sandwich generation bukan hanya soal orang tua atau dirinya sakit saja. Namun setidaknya, dengan memiliki asuransi, kondisi itu tak akan membebani.
“Karena bebannya sudah berpindah ke asuransi,” katanya.
Pendapat Peter tersebut senada dengan ulasan yang pernah disampaikan oleh Asosiasi Industri Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Menurut ulasan tersebut asuransi membantu manajemen risiko dan bisa membantu menghindari tekanan finansial besar di masa mendatang.
Dengan begitu, asuransi dapat bekerja sebagai penyangga finansial. Ia tidak hanya melindungi satu individu, tetapi mengubah beban finansial seluruh keluarga dengan adanya proteksi. Di negara maju, solusi ini umum dilakukan sejak awal.
Mengapa Sandwich Generation di Indonesia Masih Marak?
Fenomena ini terus berulang karena kombinasi faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Indonesia memiliki tradisi kuat untuk saling menanggung dalam keluarga, namun tanpa perencanaan keuangan yang memadai, tradisi itu berubah menjadi beban antargenerasi.
1. Minimnya Perencanaan Dana Hari Tua
Banyak orang tua tidak tahu kebutuhan dana pensiun mereka sehingga mereka tidak mempersiapkan dana pensiun mereka. Hal ini membuat mereka bergantung sepenuhnya pada anak, terutama ketika memasuki usia nonproduktif.
2. Biaya Kesehatan yang Terus Meningkat
Kesehatan menjadi salah satu biaya yang mahal dan memiliki inflasi tertinggi. Namun justru karena alasan itu, proteksi kesehatan sangat diperlukan semua orang termasuk para sandwich generation.
Orang tua memiliki risiko kesehatan yang tinggi karena itu biaya premi asuransi kesehatannya biasanya mahal. Namun bukan berarti kamu kemudian tidak memberikan proteksi kepada orang tua.
Untuk para ‘sandwich’ yang masih bergaji UMR minimal dapat melindungi orang tuanya dengan asuransi milik pemerintah, BPJS. Jika kamu memiliki budget lebih, kamu bisa membelikan asuransi kesehatan swasta.
Sementara itu kamu sebagai pencari nafkah perlu asuransi yang lebih mumpuni agar jika terjadi risiko sakit, kamu tidak perlu mengorbankan tabungan yang kamu miliki untuk berobat.
3. Gaji Tidak Seimbang dengan Kebutuhan
Generasi milenial dan Gen Z menghadapi biaya hidup tinggi (perumahan, pendidikan anak, inflasi), sementara kenaikan pendapatan tidak selalu mengikuti.
4. Kurangnya Literasi Finansial
Banyak keluarga belum terbiasa dengan pengelolaan keuangan jangka panjang, sehingga keputusan-keputusan keuangan hanya bersifat reaktif bukan preventif.
Tekanan finansial dua arah membuat banyak orang usia produktif mengalami stres, burnout, dan rasa gagal. Secara finansial, mereka sulit menabung, sulit berinvestasi, dan sering menunda tujuan penting seperti membeli rumah atau merencanakan pendidikan anak.
Dalam jangka panjang, siklus ini membuat anak mereka kelak kembali menanggung beban yang sama. Tanpa intervensi, sandwich generation akan terus berulang lintas generasi.
Bagaimana Asuransi Membantu Memutus Rantai Sandwich Generation
Banyak orang percaya kondisi sandwich generation adalah ‘takdir sosial’ yang sulit dihindari padahal tidak selalu demikian. Salah satu langkah paling strategis untuk menghentikan siklus ketergantungan finansial lintas generasi adalah dengan memiliki perlindungan asuransi yang tepat.
Asuransi bekerja sebagai alat pengalihan risiko, sehingga beban ekonomi terbesar dalam keluarga tidak lagi otomatis jatuh ke anak. Mulai dari biaya kesehatan orang tua, perlindungan bagi pencari nafkah, hingga risiko penyakit kritis, semuanya dapat ditahan sebelum menjadi masalah finansial yang menjerat.
Berikut manfaat utama asuransi dalam membantu memutus rantai sandwich generation:
1. Mengurangi Beban Medis melalui Asuransi Kesehatan
Fenomena sandwich generation sangat sering dipicu oleh satu faktor utama biaya kesehatan. Saat terjadi risiko sakit, kamu yang mungkin sebelumnya termasuk kategori finansial aman, bisa saja berubah 90 derajat.
Di sinilah asuransi kesehatan memegang peran krusial dalam memutus rantai ketergantungan lintas generasi. Dengan proteksi yang tepat, kamu tidak lagi bergantung pada tabungan atau bahkan utang ketika kondisi darurat medis terjadi.
Kamu bisa fokus mempersiapkan finansial tanpa perlu khawatir soal biaya kesehatan jika sewaktu-waktu jatuh sakit. Asuransi dapat memberi ruang bagi kamu untuk tetap fokus membangun masa depannya.
2. Asuransi Jiwa, Proteksi Pendapatan bagi Generasi Sandwich
Banyak kasus sandwich generation muncul karena anak menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi dua generasi sekaligus orang tua dan keluarga inti.
Risiko kehilangan penghasilan baik karena sakit, kecelakaan, atau kematian bisa menghancurkan stabilitas finansial seluruh anggota keluarga. Asuransi jiwa hadir sebagai mekanisme perlindungan yang memastikan keberlangsungan hidup keluarga tetap terjaga, meski pencari nafkah mengalami musibah.
Proteksi ini tidak hanya melindungi keluarga inti, tetapi juga memberikan ‘nafas finansial’ bagi orang tua yang masih bergantung pada anak.
3. Mengantisipasi Risiko Finansial Terbesar dengan Asuransi Penyakit Kritis
Pengeluaran terbesar dalam keluarga Indonesia biasanya datang dari penyakit kritis, bukan dari pengobatan rutin. Serangan jantung, stroke, atau kanker dapat menghabiskan ratusan juta rupiah, sering kali memaksa kamu mengambil alih biaya perawatan. Nah, kamu sebagai pencari nafkah, sangat perlu memiliki asuransi penyakit kritis sebagai bentuk proteksi yang lebih menyeluruh.
Asuransi penyakit kritis memberikan dana tunai (lump sum) yang bisa langsung digunakan untuk pengobatan, kebutuhan hidup, atau biaya tambahan lain. Proteksi ini membantu menutup’ lubang finansial’ terbesar yang selama ini membuat generasi sandwich tidak pernah benar-benar lepas dari tekanan ekonomi keluarga.
Memutus rantai sandwich generation bukan hal mudah, tapi sangat mungkin dilakukan. Kuncinya adalah merencanakan proteksi sejak dini. Asuransi baik kesehatan, jiwa, maupun penyakit kritis memegang peranan utama untuk mengalihkan risiko besar yang sering menghancurkan stabilitas keuangan keluarga.
Dengan proteksi yang tepat, generasi muda dapat fokus membangun masa depan, orang tua mendapatkan jaminan hidup layak, dan generasi berikutnya terbebas dari siklus yang sama. Sandwich generation bisa dihentikan. Dan proteksi adalah salah satu langkah terkuat untuk memulainya.
Kamu juga perlu melakukan cek kesehatan finansial secara berkala untuk mengetahui kondisi keuangan kamu. Hal ini dapat kamu lakukan secara gratis di Ruang Menyala.
Caranya mudah, kamu tinggal mengakses website www.ruangmenyala.com dan ikuti Financial Fitness Check Up. Setelah melakukan Financial Fitness check up, kamu juga bisa langsung konsultasi hasil Financial Fitness Check Up dengan Nyala Trainer, loh!
Dengan Nyala Trainer yang sudah berpengalaman, kamu akan mendapatkan sesi konsultasi 1 on 1 untuk membantu dalam menganalisa kesehatan keuangan. Semua benefitnya bisa kamu dapatkan secara gratis. Untung banget, kan?