Logo Ruang Menyala
Bg Block
Kembali ke meNYALA resources

Kenapa Banyak Orang Justru Makin Boros saat Ramadan?

Oleh: Ruang Menyala

Last updated: 10 Maret 2026 | 221 dilihat

Kenapa Banyak Orang Justru Makin Boros saat Ramadan?

Ramadan seharusnya lebih hemat, tapi kenapa pengeluaran justru naik? Ini penjelasan rincinya dan tips bagaimana cara menghindarinya.

Bulan Ramadan identik dengan pengendalian diri dan kesederhanaan. Namun dalam praktiknya, banyak orang justru merasakan pengeluaran yang meningkat selama bulan suci. 

Biaya konsumsi bertambah, frekuensi belanja lebih sering, hingga godaan promo yang semakin masif menjelang Lebaran ikut mempengaruhi pola pengeluaran. 

Fenomena ini tidak terjadi tanpa alasan. Ada perubahan perilaku konsumsi dan faktor psikologis yang membuat pengeluaran terasa wajar, padahal totalnya membengkak. 

Baca juga: THR Cair, Jangan Lupa bikin Prioritas Biar ga Boncos

Ramadan Semakin Boros?

Peningkatan pola belanja dan pengeluaran masyarakat di bulan Ramadan itu sudah menjadi rahasia umum. Banyak survei dan kajian yang mengkonfirmasi hal ini, salah satunya Snapcart yang menunjukkan bahwa sekitar 75% responden Indonesia mengaku pengeluarannya naik selama Ramadan.

Peningkatan ini didorong oleh berbagai faktor, mulai dari persiapan buka puasa dan sahur yang lebih variatif, kebutuhan pakaian baru untuk Hari Raya, hingga tradisi mudik yang memerlukan alokasi dana khusus. 

Bahkan berdasarkan laporan dari Redseer Strategy Consultants, total belanja masyarakat Indonesia selama Ramadan 2025 diperkirakan mencapai US$73 Miliar atau setara Rp 1.188 Triliun.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Pakar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Dr Megawati Simanjuntak. Ia menyebutkan, Ramadan jadi bulan rawan terjadinya pembelian berlebih atau overbuying

Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku ini sering terjadi saat Ramadan dan lebih banyak membawa dampak negatif,” jelasnya, seperti dikutip dari laman resmi IPB University. 

Megawati mencontohkan perilaku konsumtif yang paling sering dilakukan, yaitu saat waktu berbuka puasa. Berbagai hidangan disiapkan secara berlebihan, mulai dari makanan berat hingga aneka takjil seperti gorengan, kolak, es buah, dan kurma.

“Sering kali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan tubuh. Ini tidak baik, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran,” ujarnya.

Perilaku konsumtif juga meningkat menjelang Idul Fitri. Masyarakat terdorong membeli berbagai kebutuhan tambahan, mulai dari pakaian baru, hidangan khas lebaran seperti rendang, ketupat, dan opor ayam, hingga aneka kue kering.

Baca juga: 8 Tips Mengatur Keuangan saat Lebaran Agar Hemat!

Tips Anti Boros saat Ramadan

Perilaku konsumtif dan boros selama Ramadan itu harus dikendalikan agar keuangan tetap sehat dan siap menghadapi kebutuhan usai lebaran. Berikut beberapa tips anti boros yang bisa kamu terapkan!

1. Buat Anggaran Khusus Ramadan 

Jangan hanya mengandalkan anggaran bulanan biasa. Ramadan memiliki kebutuhan tambahan yang sifatnya spesifik, seperti konsumsi sahur dan berbuka, zakat, sedekah, hingga persiapan Lebaran. 

Rinci perkiraan pengeluaran sejak awal dan tentukan batas maksimalnya. Dengan perencanaan yang jelas, kamu memiliki panduan konkret dalam mengontrol arus uang.

2. Menu dan Pola Konsumsi yang Sederhana

Salah satu sumber pemborosan terbesar selama Ramadan adalah makanan. Lapar mata saat menjelang berbuka sering membuat pembelian berlebihan. 

Menyusun menu mingguan membantu kamu belanja bahan makanan sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan keinginan sesaat. 

Selain lebih hemat, cara ini juga mengurangi risiko makanan terbuang karena terlalu banyak membeli variasi yang akhirnya tidak habis dikonsumsi.

3. Kontrol Frekuensi Buka Bersama 

Buka bersama memang bagian dari tradisi sosial Ramadan. Namun jika terlalu sering, pengeluaran bisa meningkat signifikan. Tidak semua undangan harus diikuti. 

Pilih yang benar-benar prioritas dan sesuaikan dengan kondisi keuangan. Untuk jajan harian, tetapkan batas nominal yang realistis. Disiplin pada angka tersebut akan membantu menjaga total pengeluaran tetap dalam kendali.

4. Jangan Terjebak Ilusi Diskon dan Promo

Ramadan identik dengan banjir promo, mulai dari makanan hingga kebutuhan fesyen. Banyak orang merasa hemat karena mendapatkan potongan harga, padahal total belanja justru meningkat. 

Biasakan mengevaluasi kebutuhan sebelum tergoda diskon. Tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut memang diperlukan atau hanya terasa menarik karena harganya sedang turun. Fokuslah pada total pengeluaran, bukan pada persentase diskon.

5. Amankan Tabungan Sejak Awal, Bukan dari Sisa

Kesalahan umum adalah menabung dari sisa uang setelah semua pengeluaran selesai. Selama Ramadan, pola ini berisiko karena pengeluaran cenderung meningkat.

Lebih aman jika kamu langsung menyisihkan dana untuk tabungan atau dana darurat di awal. 

Dengan cara ini, kamu memastikan keuangan tetap memiliki bantalan setelah bulan suci berakhir, tanpa harus merasa kekurangan di bulan berikutnya.

Mengelola keuangan secara bijak selama Ramadan akan membuatmu menjalani bulan suci dengan lebih tenang, sekaligus memperkuat kondisi dan kesehatan keuangan untuk jangka panjang.

Penasaran seberapa sehat finansialmu? Sekarang cek kondisi finansial sangat mudah, yaitu melalui Financial Fitness Check Up yang bisa memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit.

Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa mendiskusikan hasilnya melalui layanan 1 on 1 Consultation dengan Nyala Trainer. Melalui layanan ini, kamu bisa mengetahui bagaimana strategi yang tepat untuk memperbaiki masalah keuangan kamu.

Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang MeNyala sekarang guna mencapai #FUNanciallyFIT!

Baca juga: 30 Ucapan Lebaran Penuh Makna Kemenangan


0 Komentar

Max. 0/120 karakter Login Page