Apa itu goodwill dalam laporan keuangan? Berikut arti, cara terbentuk, dan kenapa nilainya bisa mencapai triliunan dalam laporan keuangan.
Dalam dunia bisnis dan akuntansi, tidak semua aset bisa dilihat atau disentuh. Ada nilai tersembunyi yang justru sering menjadi alasan utama sebuah perusahaan dihargai sangat mahal.
Konsep inilah yang dikenal sebagai goodwill. Meski tidak berwujud fisik, goodwill bisa bernilai fantastis, bahkan mencapai triliunan rupiah dalam transaksi akuisisi.
Untuk memahami kenapa hal ini bisa terjadi, penting untuk melihat apa sebenarnya goodwill, bagaimana ia terbentuk, dan mengapa investor serta perusahaan begitu memperhatikannya.
Baca juga: 12 Ide Usaha Sampingan Karyawan, Untung Meski Minim Modal!
Goodwill adalah
Goodwill adalah istilah akuntansi yang merujuk pada nilai lebih yang dimiliki sebuah perusahaan, tetapi tidak berwujud secara fisik. Aset ini biasanya muncul ketika suatu perusahaan mengakuisisi perusahaan lain dengan harga lebih tinggi daripada nilai aset bersihnya.
Selain itu, goodwill mencerminkan hal-hal seperti reputasi merek, loyalitas pelanggan, kualitas manajemen, jaringan bisnis, hingga potensi pertumbuhan. Semua ini punya nilai ekonomi, meskipun tidak bisa disentuh atau dilihat seperti gedung atau mesin.
Bayangkan sebuah perusahaan dibeli seharga Rp100 Miliar, padahal jika dihitung dari aset dikurangi kewajiban, nilainya hanya Rp80 Miliar. Selisih Rp20 Miliar itulah yang disebut goodwill.
Selisih ini muncul karena pembeli menilai ada keunggulan tertentu yang membuat perusahaan tersebut lebih berharga dari sekadar angka asetnya.
Dalam laporan keuangan, goodwill dicatat sebagai aset tidak berwujud. Namun berbeda dengan aset biasa, goodwill tidak disusutkan setiap tahun. Nilainya akan diuji secara berkala melalui proses impairment test.
Jika nilainya dianggap menurun, perusahaan harus mencatatkan penurunan nilai tersebut sebagai kerugian.
Baca juga: 10 Ide Usaha di Kampung yang Unik dan Menjanjikan
Cara Menghitung Goodwill
Goodwill dihitung dari selisih antara harga akuisisi dengan nilai wajar aset bersih perusahaan yang diakuisisi. Konsepnya sederhana, tetapi sering membingungkan karena melibatkan istilah akuntansi seperti nilai wajar dan aset bersih.
Secara umum, rumus goodwill adalah:
Goodwill = Harga Akuisisi – Nilai Wajar Aset Bersih
Nilai wajar aset bersih sendiri diperoleh dari:
Total Aset (nilai wajar) – Total Liabilitas (nilai wajar)
Perlu digarisbawahi, yang digunakan bukan nilai buku di laporan lama, melainkan nilai wajar (fair value) saat transaksi terjadi.
Sebagai contoh, PT Maju Jaya, mengakuisisi PT Sukses Selalu dengan harga Rp120 Miliar. Setelah dilakukan penilaian ulang, diketahui bahwa total aset PT Sukses Selalu memiliki nilai wajar Rp150 Miliar, sementara total kewajibannya Rp50 Miliar.
Langkah pertama, hitung aset bersih:
- Nilai wajar aset bersih = Rp150 Miliar – Rp50 Miliar
- Nilainya = Rp100 Miliar
Langkah kedua, hitung goodwill:
- Goodwill = Harga akuisisi – Nilai wajar aset bersih
- Goodwill = Rp120 Miliar – Rp100 Miliar
- Goodwill = Rp20 Miliar
Artinya, PT Maju Jaya membayar Rp20 miliar lebih mahal dari nilai aset bersih yang bisa diidentifikasi. Selisih inilah yang dianggap sebagai goodwill.
Mengapa pembeli mau bayar lebih? Biasanya karena faktor nonfisik seperti kekuatan merek, basis pelanggan, teknologi, kontrak bisnis, atau posisi pasar. Hal-hal ini tidak selalu muncul sebagai aset terpisah, tetapi tetap punya nilai ekonomi.
Dalam praktik nyata, perhitungan goodwill bisa jauh lebih kompleks karena melibatkan penilaian detail atas aset tak berwujud, potensi sinergi, hingga proyeksi bisnis.
Namun secara konsep, logikanya tetap sama: berapa harga yang dibayar dibandingkan nilai bersih yang benar-benar dimiliki perusahaan target.
Baca juga: Pinjam KTA Bank vs Pinjaman Online, Mana Lebih Baik?
Mudah Mengelola Uang Usaha
Itulah ulasan mengenai apa itu goodwill, beserta bagaimana cara menghitungnya dalam laporan keuangan. Jika usahamu sudah menyusun laporan keuangan, tandanya kamu sudah bisa mengelola uang usaha dengan profesional.
Disiplin dalam mengatur keuangan bisnis sangat penting bagi pengusaha untuk menjaga kelangsungan usaha, menyiapkan rencana pengembangan, serta mengambil keputusan finansial secara lebih rasional dan berbasis data.
Kini, proses pengelolaan keuangan tersebut bisa dijalankan dengan lebih sederhana berkat hadirnya solusi Nyala Bisnis dari OCBC yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pelaku usaha.
Nikmati berbagai layanan yang membantu bisnis naik level dengan berbagai dukungan, antara lain: rekening bisnis dengan pilihan lebih dari 10 mata uang, bebas biaya transfer untuk keperluan bisnis hingga pantau portofolio secara mudah dan online
Efisiensi transaksi juga semakin terasa karena Nyala Bisnis menyediakan layanan transaksi valuta asing dengan kurs yang kompetitif dan dapat diakses langsung melalui solusi digital OCBC Business dengan 3 pilihan bahasa (ID, EN, CH).
Seluruh layanan tersebut dapat langsung digunakan dengan membuka rekening dengan klik di sini, dengan proses yang mudah dan online kapan pun di manapun.
Tidak hanya mempermudah transaksi, Nyala Bisnis juga mendukung pengusaha dalam memantau kondisi keuangan bisnis melalui Business Fitness Check Up (BFCU) dari Ruang MeNyala. Dalam waktu sekitar tiga menit, gambaran kesehatan finansial usaha dapat diperoleh secara ringkas dan mudah dipahami.
Hasil analisis tersebut kemudian bisa dibahas lebih lanjut bersama Nyala Trainer melalui sesi 1 on 1 Consultation. Dari sesi ini, pelaku usaha akan mendapatkan insight mengenai cara menjaga neraca keuangan tetap seimbang sekaligus mengoptimalkan potensi keuntungan.
Dengan dukungan solusi yang menyeluruh, pengelolaan keuangan bisnis dapat dilakukan dengan lebih terstruktur dan terarah. Saatnya memanfaatkan Ruang MeNyala untuk membangun fondasi keuangan usaha yang lebih kuat dan berkelanjutan menuju kondisi #FUNanciallyFIT.
Baca juga: Panduan dan Contoh Cara Menghitung Bagi Hasil Usaha Kuliner