Dokter termasuk profesi keren yang banyak diinginkan anak-anak. Coba ingat lagi, kamu mungkin waktu kecil akan menjawab ‘ingin jadi dokter’ pas ditanya apa cita-cita, kan?
Hal ini wajar. Image seorang dokter itu sangat bagus di masyarakat. Pekerjaannya mulia, membantu pengobatan orang sakit, dan kesejahteraan terjamin karena penghasilannya yang cukup besar.
Namun demikian, menjadi dokter itu bukan perkara mudah. Apalagi kalau ingin menjadi dokter spesialis atau subspesialis, maka kamu harus terus belajar dan kembali ke bangku pendidikan meski sudah lulus pada tahap sebelumnya.
Hal ini tentu berbeda dengan pekerjaan atau profesi lain. Di bidang lain, kamu bisa langsung bekerja dengan modal ijazah Sarjana (S1), tanpa dituntut untuk melanjutkan studi ke jenjang S2.
Selain sekolahnya yang berjenjang dan kontinyu, menjadi dokter juga perlu biaya yang besar. Sudah jadi rahasia umum bahwa Fakultas Kedokteran, tempat calon dokter dididik, merupakan salah satu fakultas paling mahal.
Lalu berapa biaya kuliah kedokteran? Simak artikel ini sampai akhir!
Baca juga: Pahami Pentingnya Persiapan Dana Pendidikan Anak Sejak Dini
Tahapan Menjadi Dokter
Jika kuliah di bidang lain hanya perlu waktu 4 tahun untuk lulus S1, kuliah kedokteran berbeda. Mahasiswa kedokteran perlu waktu 7-10 tahun untuk dapat Surat Izin Praktik (SIP) dan resmi jadi dokter.
Tahap pertama menjadi dokter, kamu akan menjalani masa preklinik, yaitu masa kuliah di kampus. Durasinya sekitar 3,5 - 4 tahun, dan ketika lulus kamu akan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked.).
Namun bukan berarti kamu bisa langsung praktik, ya! Pasalnya kamu harus menjalani tahap kedua menjadi dokter, yaitu melalui masa koas atau co-assistant.
Dalam masa ini, kamu akan disebut sebagai ‘dokter muda’. Kamu diharuskan praktik di rumah sakit yang bekerja sama dengan universitas tempatmu bernaung. Durasi koas sekitar 1,5 - 2 tahun, dan biasanya tidak digaji.
Setelah koas selesai, berikutnya kamu akan menjalani Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). Ujian ini akan berlangsung 4 kali dalam satu tahun.
Jika dinyatakan lulus UKMPPD, kamu akan bisa mengikuti Sumpah Dokter dan mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR). Setelah itu, kamu akan menjalani internship selama 1 tahun, dan setelahnya baru bisa praktik.
Eits, penting dipahami, tahapan di atas itu baru menjadi dokter umum, ya! Jika kamu ingin menjadi dokter spesialis, maka perjalananmu masih panjang. Setidaknya kamu harus mengikuti Pendidikan Program Dokter Spesialis (PPDS) dengan durasi 4-6 tahun.
Baca juga: Ketahui 7 Tips Mengatur Keuangan Mahasiswa yang Baik Di Sini!
Biaya Kuliah Kedokteran
Setelah tahu tahapan menjadi dokter, berikutnya kita membahas berapa biaya yang perlu disiapkan untuk kuliah kedokteran.
Biaya kuliah kedokteran itu mencakup berbagai unsur, mulai dari uang pangkal, SPP atau Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya praktikum, buku, peralatan, dan sebagainya.
Untuk biaya praktikum, buku, peralatan kedokteran sebenarnya tidak bisa dipatok nominalnya. Hal ini karena akan berbeda-beda setiap universitas dan konsentrasi yang diambil.
Maka dalam artikel ini yang akan dibahas hanya uang pangkal dan biaya UKT saja. Sebagai acuan adalah universitas terkemuka di Indonesia yang punya fakultas kedokteran terbaik.
1. UKT atau SPP
UKT atau Uang Kuliah Tunggal, yang dulunya dikenal dengan SPP, biasanya dibagi dalam beberapa golongan. Hal ini bertujuan agar biaya yang dikenakan tepat sasaran dengan latar belakang mahasiswa.
Misalnya mahasiswa dari keluarga berada akan mendapat UKT dengan golongan lebih tinggi yang artinya lebih mahal. Sebaliknya mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah mendapat UKT dengan nominal lebih murah.
Berikut tarif UKT Fakultas Kedokteran pada setiap golongan dari salah satu universitas di Indonesia:
- UKT 1: Rp500 Ribu
- UKT 2: Rp1 Juta
- UKT 3: Rp2 Juta
- UKT 4: Rp4 Juta
- UKT 5: Rp6 Juta
- UKT 6: Rp7,5 Juta
- UKT 7: Rp10 Juta
- UKT 8: Rp12,5 Juta
- UKT 9: Rp15 Juta
- UKT 10: Rp17,5 Juta
- UKT 11: Rp20 Juta
UKT dibayarkan per semester. Contoh perhitungannya, kamu dapat UKT Golongan 7 yaitu Rp10 Juta per semester. Jika masa studi ditempuh 4 tahun atau 8 semester, maka total uang UKT yang dibayarkan adalah Rp80 Juta.
2. Uang Pangkal
Selain SPP bulanan, mahasiswa kedokteran juga diharuskan membayar uang pangkal, atau Iuran Pengembangan Institusi (IPI). IPI ini dibayarkan sekali saat dinyatakan lulus seleksi.
Berikut besaran IPI di universitas tersebut:
- IPI Kelompok 1: Rp0
- IPI Kelompok 2: Rp0
- IPI Kelompok 3: Rp122,8 Juta
- IPI Kelompok 4: Rp 161,6 Juta
Baca juga: 10 Daftar Kampus Terbaik di Dunia 2024 dan Biaya Hidupnya
Menyiapkan Dana untuk Kuliah Kedokteran
Gimana, biayanya mahal? Sebenarnya sangat wajar jika biaya kuliah kedokteran itu mahal. Bagaimana tidak, setelah lulus langsung jadi dokter dengan jaminan kesejahteraan yang cukup baik.
Nah, mengingat biayanya mahal, maka menyiapkan dana untuk kuliah kedokteran merupakan kewajiban bagi orang tua yang ingin anaknya jadi dokter. Berikut adalah tips menyiapkan dana yang bisa diterapkan.
1. Mulai Sejak Dini
Semakin awal kamu mulai menabung, semakin ringan beban bulanan yang harus disisihkan. Hitung estimasi total biaya kuliah kedokteran, termasuk UKT/SPP, biaya praktikum, perlengkapan, buku, hingga tempat tinggal dan transportasi.
Setelah itu, tentukan target waktu dan nominal yang perlu dikumpulkan per bulan. Perencanaan ini akan jadi pondasi utama keberhasilan dana pendidikan anak.
2. Manfaatkan Investasi Jangka Menengah-Panjang
Karena biaya kuliah biasanya baru dibutuhkan dalam 5–10 tahun ke depan, menabung saja tidak cukup. Manfaatkan instrumen investasi seperti Reksa Dana, saham, emas, maupun obligasi.
Instrumen ini punya potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding tabungan biasa. Namun pastikan memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko investasimu.
3. Buat Rekening Khusus
Pisahkan dana pendidikan dari keuangan harian agar tidak tercampur dan terganggu. Buka rekening atau dompet digital khusus untuk dana kuliah anak.
Lalu, sisihkan secara otomatis setiap bulan, misalnya 10–20% dari penghasilan. Dengan disiplin dan konsistensi, tabungan akan berkembang tanpa terasa membebani.
4. Tingkatkan Literasi Keuangan
Pelajari lebih lanjut tentang perencanaan pendidikan dan produk investasi yang sesuai. Kamu bisa ikut seminar, baca buku, atau konsultasi dengan perencana keuangan.
Saat anak sudah cukup besar, ajak mereka ikut memahami bahwa pendidikan dokter itu mahal dan butuh komitmen dari keluarga. Ini akan membangun semangat belajar dan rasa tanggung jawab bersama.
Selain itu, kamu perlu mengetahui kondisi kesehatan finansial sebelum membuka tabungan untuk pendidikan anak. Untuk itu, kamu bisa melakukan Financial Fitness Check Up dari Ruang meNYALA.
Financial Fitness Check Up akan membantumu memeriksa kondisi keuangan hanya dalam waktu 3 menit. Setelah melakukan Financial Fitness Check Up, kamu bisa bisa membahas hasil tes kamu dengan Nyala Trainer.
Daftarkan segera jadwal konsultasi 1 on 1 konsultasi kamu di Ruang Menyala secara gratis. Kamu juga jadi tahu bagaimana cara menabung untuk kurban selanjutnya yang efektif untuk kondisi keuangan kamu saat ini.
Banyak manfaatnya, bukan? Yuk, atur keuanganmu dengan Ruang meNYALA sekarang guna mencapai #FinanciallyFit!
Baca juga: Mengenal Cara Menabung Sistem Amplop, Hemat Uang Jadi Mudah!